Risikonya Ya Di-“bully”

13 December 2018
ikp

Semarang – Puluhan admin media sosial (Medsos) seluruh SKPD dan BUMD se-Jawa Tengah berkumpul di kediaman Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Kamis (13/12). Dengan santai, mereka ngobrol bersama gubernur terkait pelayanan publik berbasis inovasi teknologi.

Memang selama kepemimpinan Ganjar, seluruh SKPD dan BUMD se-Jateng diwajibkan menggunakan media sosial untuk melayani masyarakat. Hal itu sudah dilakukan Ganjar sejak 2013 lalu dan dinilai membantu pelayanan pada masyarakat.

Sambil duduk lesehan, orang nomor satu di Jawa Tengah ini memberikan masukan serta evaluasi terkait kinerja SKPD dan BUMD se-Jateng, khususnya terkait pelayanan publik menggunakan media sosial. Tidak hanya itu, Ganjar juga menerima masukan dari para admin medsos yang hadir dalam kesempatan itu untuk mendengarkan keluhan mereka.

Hal itu tidak disia-siakan oleh para peserta untuk meminta masukan dari Gubernur Jateng. Bahkan, ada pula yang curhat karena merasa stres menghadapi banyak akun yang mem-bully mereka.

“Kami para admin ini sering stres pak, karena selalu dinyinyirin banyak orang. Kami sering menghadapi nyinyiran dan bully-an dari banyak orang. Cara mengatasi ini gimana pak? Kami stres,” kata Dwi Agung, salah satu admin medsos Dispermadesdukcapil Provinsi Jawa Tengah.

Mendengar curhatan itu, Ganjar tersenyum. Dengan sabar, dia menjelaskan, penggunaan media sosial untuk pelayanan masyarakat sangat efektif, namun juga memiliki banyak tantangan.

“Itu risikonya, ya di-bully. Tapi jangan takut, biasa saja menghadapinya. Tetap sabar, jangan memaki apalagi menghardik,” jawabnya.

Diakui, melayani masyarakat menggunakan akun media sosial memang menjadi sasaran orang yang tidak suka. Akan banyak yang mem-bully apapun informasi dan pelayanan yang dilakukan.

“Tapi jangan terlalu memperdulikan akun yang memang hobinya nyinyir. Tidak usah dipedulikan, apalagi kalau akunnya anonim dan ngomongnya ngawur tanpa data. Layani saja masyarakat yang benar-benar serius membutuhkan masukan, misalnya ada masyarakat yang bertanya terkait pembuatan E-KTP, pelayanan rumah sakit, jalan rusak dan sebagainya,” terang mantan anggota DPR RI ini.

Gubernur menceritakan, selama menggunakan akun media sosial, banyak pula orang yang tidak senang dan nyinyir pada setiap program yang dilakukannya. Mayoritas, orang-orang yang nyinyir itu akunnya anonim.

“Yang begitu-begitu tidak perlu direspon, jangan dimasukkan hati dan membuat anda stres,” ujarnya.

Tak lupa, Ganjar juga berpesan kepada admin medsos agar terus semangat dalam pelayanan publik berbasis inovasi. Menurutnya, pelayanan berbasis teknologi saat ini merupakan sebuah kebutuhan di era kekinian.

“Kalau ada pertanyaan dari masyarakat harus cepat dijawab. Jangan lupa nge-vlog untuk memperlihatkan kepada masyarakat program kerja kita secara riil. Kalau ada masalah serius yang tidak dapat diselesaikan, sampaikan kepada saya, nanti pasti saya bantu. Mari kita wujudkan birokrasi di Jateng yang casual,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jateng, Dadang Somantri mengatakan, seluruh SKPD dan BUMD Provinsi Jawa Tengah telah memiliki akun media sosial yang digunakan untuk melayani masyarakat.

“Respon masyarakat memang bagus. Media sosial yang kami punya selalu dimanfaatkan masyarakat untuk bertanya, meminta informasi dan lain sebagainya,” kata Dadang.

Diungkapkan, selama 2018 ini, ada 12.072 pengaduan dari masyarakat yang masuk di berbagai medsos di Jateng. Dari pengaduan itu, sebanyak 9.805 aduan telah selesai dan 932 sedang dalam proses penyelesaian.

Penulis : Bw, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Foto : Humas Jateng

Skip to content