KOTA PEKALONGAN – Puluhan hektare lahan bekas terdampak rob di wilayah Kota Pekalongan segera dialihfungsikan menjadi lahan sawah. Program itu merupakan kelanjutan dari kesuksesan pemanfaatan lahan demplot di Kelurahan Krapyak dan Degayu, sebagai lokasi penanaman padi varietas Biosalin I dan II.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Lili Sulistyowati, menuturkan pada akhir 2024, pihaknya menguji coba penanaman padi di lahan demplot seluas 1,3 hektare, di wilayah Kelurahan Krapyak.
“Alhamdulillah, dari demplot 1,3 hektare kini sudah mencapai 40 hektare. Total pagu sawah di Kota Pekalongan ada 721 hektare. Dari jumlah tersebut, terdapat potensi sekitar 95 hektare lahan eks rob di Kelurahan Krapyak dan Degayu yang bisa dimanfaatkan kembali untuk pertanian,” ungkap Lili, sapaan akrabnya, pada acara Capacity Building Perluasan Remediasi Lahan Pertanian dengan Memanfaatkan Lahan Eks Rob, di Hotel Howard Johnson (Hojo) Pekalongan, Senin (25/8/2025).
Pada kesempatan yang sama, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal, Bimala, mengungkapkan uji coba demplot juga dilakukan di Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara. Semula, luasan lahan yang dipakai adalah 1,5 hektare, lalu berkembang menjadi 40 hektare.
Ia menjelaskan, hasil panen menggunakan varietas Padi Biosalin I mampu mencapai 4,2–5,7 ton per hektare, sementara Biosalin II menghasilkan 4,8–6 ton per hektare. Capaian ini menurutnya luar biasa untuk lahan yang sebelumnya tidak produktif.
“Alhamdulillah, keberhasilan panen Padi Biosalin di Kota Pekalongan bisa ditularkan ke wilayah lain di sepanjang Pantura maupun eks karesidenan Pekalongan. Kami ingin semuanya mengimplementasikan hal serupa,” tambahnya.
Bimala juga mengapresiasi langkah Pemkot Pekalongan yang lebih dulu membangun tanggul sebagai sistem penanganan banjir dan rob, sehingga remediasi lahan lebih mudah dilakukan.
Keberhasilan Pekalongan ini mendapat dukungan penuh dari Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BRMP Biogen) Kementan Bogor. Kepala BRMP Biogen, Arif Surahman, menjelaskan masalah intrusi salin bukan hanya dialami Pekalongan, melainkan juga di banyak wilayah pesisir Indonesia. Bahkan, terdapat sekitar 400 ribu hektare lahan di Indonesia yang terkena intrusi salin. Lahan tersebut berpotensi untuk ditanami padi varietas Biosalin I dan II yang tahan terhadap air dengan kandungan garam tinggi.
Ia menambahkan, varietas Biosalin memiliki produktivitas tinggi, terutama jika tanaman sudah adaptif dengan kondisi lahan. Produktivitas Biosalin I mencapi 8,7 ton per hektare, sedangkan Biosalin II mencapai 9,2 ton per hektare.
Menurutnya, keberhasilan Kota Pekalongan mengubah lahan eks rob menjadi lumbung pangan baru menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di sepanjang Pantura. Dari hasil uji coba terbatas, kini lahannya semakin luas dan produktif, memberikan harapan baru bagi masyarakat pesisir yang selama ini terdampak rob.
“Program ini sekaligus membuktikan bahwa dengan kolaborasi pemerintah, lembaga keuangan, peneliti, dan masyarakat, permasalahan lingkungan bisa diubah menjadi peluang ekonomi dan ketahanan pangan,” tukasnya.
Wakil Wali Kota (Wawalkot) Pekalongan, Balgis Diab, menjelaskan, program pemanfaatan lahan eks rob ini selaras Program Asta Cita yang kedua dari Presiden Prabowo, yakni tentang penguatan ketahanan pangan.
Ia menambahkan, dengan jumlah lahan eks rob yang cukup banyak di Kota Pekalongan, pihaknya berkomitmen mengembalikan fungsi lahan menjadi produktif secara bertahap.
“Harapannya, lahan yang semula mati bisa diproduktifkan kembali, berkelanjutan, dan bukan hanya sekadar seremonial,” tegasnya.

Penulis: Dian, Tim Liputan Kominfo Kota Pekalongan
Editor: Tn, Diskominfo Jateng
