Festival Anak Jadi Ajang Anak Jajal Permainan Tradisional 

01 August 2025
Yandip Prov Jateng (1)
Festival Anak Jadi Ajang Anak Jajal Permainan Tradisional 

KOTA PEKALONGAN – Ajang Festival Anak Kota Pekalongan Tahun 2025 menjadi tempat bagi anak-anak untuk menjajal beberapa jenis permainan tradisional, seperti lompat tali, layangan, yoyo, dan engklek.

Salah seorang peserta Festival Anak, Aulia Rahma mengungkapkan kegembiraannya bisa ikut serta pada acara yang digelar di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Pekalongan, Rabu (30/7/2025).

“Aku senang banget bisa main lompat tali dan yoyo sama teman-teman. Biasanya aku di rumah cuma main HP, tetapi tadi aku bisa lari-lari, ketawa-tawa bareng. Ternyata permainan kayak gini seru juga,” tutur pelajar kelas lima sekolah dasar tersebut.

Ia berharap, kegiatan seperti ini bisa diadakan lebih sering, sehinga anak-anak di Pekalongan bisa bermain bersama, tanpa harus terpaku pada gawai mereka.

“Nanti mau ngajak orang tua juga di rumah untuk mengenalkan lebih banyak lagi permainan tradisional,” tukasnya.

Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, menuturkan, festival tersebut menjadi sarana untuk mengenalkan kepada anak-anak, tentang permainan khas Nusantara. Dengan begitu, anak memiliki ruang bermain yang sehat dan menyenangkan.

“Anak-anak tidak bisa terus-menerus berada di dunia maya, bermain gadget tanpa batas. Mereka juga perlu menikmati dunia nyata, bersosialisasi, bermain, dan tertawa lepas bersama teman-temannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, salah satu permainan yang menarik perhatian adalah yoyo, yang menurutnya bukan sekadar mainan biasa.

“Yoyo bukan permainan yang bisa dimainkan sembarangan, butuh keterampilan dan ketekunan. Tidak semua anak bisa melakukannya. Ini menjadi pelajaran tersendiri bagi mereka untuk sabar, belajar, dan mencoba hal baru yang menantang,” terangnya.

Melalui permainan-permainan tersebut, imbuhnya, anak-anak diajak untuk mengasah keterampilan motorik, kecerdasan sosial, dan kemampuan problem solving yang selama ini cenderung berkurang akibat dominasi layar gadget. Dirinya berharap, momentum ini dapat menjadi titik balik dalam membangun kembali kebiasaan bermain aktif di luar ruangan yang lebih sehat dan menyenangkan.

“Permainan tradisional bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga sarana pengembangan karakter. Anak-anak diajarkan sportivitas, solidaritas, serta kebahagiaan sederhana yang tumbuh dari interaksi langsung. Ini sangat penting untuk masa depan mereka agar tumbuh menjadi anak-anak hebat,” tambahnya.

Wawalkot Balgis juga mengajak seluruh pihak, terutama orangtua, untuk turut mendampingi anak dalam menghadapi perkembangan zaman.

“Orangtua adalah benteng utama perlindungan anak. Mari kita hadirkan waktu dan ruang bagi anak untuk bermain, berdialog, dan berkembang. Jangan biarkan mereka tumbuh dalam isolasi layar, tanpa pengalaman interaksi sosial yang nyata,” bebernya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Pekalongan, Puji Winarti, menjelaskan, Festival Anak menjadi acara puncak peringatan HAN tahun ini. Festival ini menghadirkan lima titik kegiatan utama yang sarat nilai edukatif, partisipatif, dan kultural. Pertama, Kelas Pengasuhan Anak dengan psikolog dari DPMPPA. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan pola komunikasi yang sehat antara ibu dan anak, serta membekali orangtua dengan keterampilan pengasuhan positif.

Kedua, Festival Menulis Surat dari Anak untuk Kota Pekalongan. Kegiatan ini menjadi media suara hati anak-anak SD/MI dari 27 kelurahan di Kota Pekalongan. Mereka menyampaikan aspirasi, harapan, bahkan kritik membangun terhadap kondisi kota, yang selanjutnya akan disampaikan langsung kepada Wali Kota Pekalongan sebagai masukan dalam pembangunan Kota Layak dan Kota Ramah Anak.

“Ketiga, ada Festival Kreativitas Daur Ulang Sampah. Anak-anak diajak (untuk) membuat hiasan rumah dari bahan daur ulang, membentuk kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Edukasi lingkungan hidup dikemas dalam kegiatan kreatif untuk membiasakan anak menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” tuturnya.

Selanjutnya, ada spot permainan tradisional, seperti engklek, congklak, yoyo untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya leluhur.

“Spot terakhir ada Talkshow Forum Anak. Forum Anak dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kota dilibatkan dalam diskusi terbuka untuk melatih keberanian menyuarakan pendapat, menjadi agen perubahan di lingkungannya, sekaligus memperkuat karakter kepemimpinan anak,” terangnya.

Penulis: Dian/Allem, Tim Liputan Kominfo Kota Pekalongan

Editor: Tn, Diskominfo Jateng

Skip to content