Deteksi Gangguan Penglihatan, Wonosobo Libatkan Desa dan Sekolah

30 July 2026
Yandip Prov Jateng (1)
Deteksi Gangguan Penglihatan, Wonosobo Libatkan Desa dan Sekolah

WONOSOBO – Deteksi dini gangguan penglihatan di Kabupaten Wonosobo akan diperluas hingga desa dan sekolah. Kader Posyandu, guru, tenaga kesehatan puskesmas, hingga dokter spesialis mata akan dilibatkan untuk membantu menemukan gangguan penglihatan lebih awal, sehingga dapat mempercepat akses masyarakat terhadap penanganan yang dibutuhkan.

Penguatan tersebut menjadi bagian dari Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE), kerja sama Pemerintah Kabupaten Wonosobo dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) yang akan berlangsung selama lima tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, mengatakan, penguatan layanan dilakukan menyusul hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025. Dari 91.306 anak usia 7–17 tahun yang menjalani skrining, sebanyak 7.474 anak atau 8,2 persen menunjukkan indikasi gangguan penglihatan. Sementara pada kelompok usia 18 tahun ke atas, indikasi serupa ditemukan pada sekitar 10.003 orang atau 17,4 persen dari 57.579 warga yang diperiksa.

Menurutnya, kondisi tersebut juga masih terlihat pada data Semester I 2026.

“Data ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan mata harus diperkuat dari hulu. Jangan menunggu masyarakat datang ketika sudah mengalami gangguan berat. Deteksi dini menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.

Jaelan menjelaskan, penguatan layanan tidak hanya dilakukan melalui deteksi dini. Program juga mencakup pelatihan kader Posyandu, guru, tenaga kesehatan puskesmas hingga dokter spesialis mata, penguatan sarana dan prasarana, serta sistem skrining dan rujukan berjenjang.

Selain itu, disiapkan beasiswa penuh bagi dokter spesialis mata putra daerah untuk menempuh pendidikan subspesialis. Pendampingan akses juga diberikan kepada warga yang mengalami kendala transportasi maupun lansia yang tidak memiliki pendamping.

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, mengatakan, gangguan penglihatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap pendidikan, kondisi sosial, dan produktivitas masyarakat. Karena itu, penanganan perlu dilakukan sebelum gangguan menjadi semakin berat.

“Jangan sampai anak baru masuk SD sudah menggunakan kacamata dengan minus tinggi. Karena ketika gangguan penglihatan terlambat diketahui, kecenderungannya akan terus bertambah. Pencegahan harus dimulai dari hulu,” ujarnya.

Afif menambahkan, program tersebut akan menjangkau seluruh 265 desa dan kelurahan di Kabupaten Wonosobo. Satuan pendidikan mulai PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs, hingga sekolah luar biasa (SLB) juga menjadi sasaran.

Program I-SEE

Direktur YSKK, Iwan Setiyoko, menjelaskan, I-SEE dirancang untuk memperkuat sistem layanan kesehatan mata yang sudah berjalan, bukan membentuk sistem pelayanan baru.

“Kami tidak membangun sistem baru, tetapi memperkuat sistem yang sudah ada agar menjadi lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan. Setelah lima tahun program berjalan, kami berharap sistem tersebut mampu berdiri sendiri dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Menurut Iwan, layanan dikembangkan melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif. Di tingkat masyarakat, program juga akan membentuk Desa Sehat Mata sebagai model pemberdayaan untuk memperkuat edukasi dan deteksi dini.

Aspek inklusivitas menjadi bagian dari pengembangan layanan. YSKK melibatkan organisasi penyandang disabilitas untuk menilai aksesibilitas pelayanan di puskesmas dan rumah sakit. Evaluasi tersebut akan dilakukan secara berkala selama pelaksanaan program.

Bagi penyandang kebutaan baru, program juga menyiapkan pendampingan rehabilitatif melalui kolaborasi dengan penyandang disabilitas netra yang telah memiliki pengalaman hidup mandiri untuk membantu proses adaptasi.

Penulis: Sofyan, Kontributor Wonosobo
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng

Mascot Padhang
Skip to content