BATANG – Memasuki musim penghujan, beberapa program normalisasi sungai mulai dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Batang. Program kolaborasi Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Batang, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) itu dilakukan dengan sistem padat karya selama 20 hari, mulai 7 hingga 26 November 2020.
Kepala Disnaker Batang, Suprapto, menyampaikan, normalisasi sungai dilakukan untuk mencegah munculnya bencana banjir. Sistem padat karya dipilih dengan mengutamakan para pekerja terdampak pandemi Covid-19 secara ekonomi, sebagai pelaksana program.
“Kami memberi kesempatan bekerja kepada masyarakat terdampak Covid-19, sehingga mendapat penghasilan. Di sisi lain mereka dapat membantu memperbaiki infrastruktur aliran sungai agar mengurangi dampak bahaya banjir,” katanya saat ditemui kantornya, Senin (9/11/2020).
Suprapto memaparkan, padat karya diarahkan untuk menormalisasi aliran sekunder Sungai Gendingan, yakni mulai dari Kelurahan Proyonanggan Selatan hingga Desa Klidang Lor yang dilakukan oleh 200 orang pekerja. Lalu, normalisasi saluran Kali Mati dan Guyangan yang menyerap 160 orang pekerja serta diperkirakan dapat selesai dalam waktu 20 hari.
Lebih lanjut, alokasi anggaran yang dibutuhkan berasal dari Dana Insentif Daerah (DID) Pemerintah Pusat. Rinciannya, normalisasi Sungai Gendingan mencapai Rp630 juta serta untuk Kali Mati dan Guyangan mencapai Rp500 juta.
Ditemui secara terpisah, Kepala Bidang Perairan DPUPR Kabupaten Batang, Farida, mengutarakan, pengerjaan normalisasi dilakukan di Sungai Gendingan dengan panjang 4,8 km yang dilakukan dengan sistem padat karya. Sementara, normalisasi wilayah hilir sepanjang 850 meter dilakukan dengan alat berat.
“Untuk wilayah barat diarahkan ke saluran Kali Mati yang bermuara ke laut sepanjang 2,6 km. Tujuannya, menaikkan tampungan air sebelum mengalirkan ke laut,” tuturnya.
Upaya pertama yang dilakukan para pekerja padat karya, lanjut Farida, adalah pengangkatan sampah, dilanjutkan sedimentasinya.
“Apabila keduanya terangkat saluran akan lebih besar, kemungkinan bisa mengurangi genangan air saat terjadi banjir di musim hujan,” terangnya.
Salah seorang pekerja padat karya, Trimanto, menuturkan, sudah tiga bulan ini dirinya berada di rumah karena pengurangan karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Ia pun bersyukur bisa diajak untuk menggarap proyek padat karya tersebut dengan honor sebesar Rp85 ribu per hari.
Penulis: Heri/MC Batang
Editor: Tn/Ul/Diskominfo Jateng
