Bebas ODF, Kendal Lanjut Kelola Sampah Dan Limbah Rumah Tangga

  • 15 Mar
  • yandip prov jateng
  • No Comments

KENDAL – Usai dinyatakan bebas buang air besar sembarangan ( ODF : Open Defecation Free ) pada 12 Desember 2018 setelah diverifikasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kini Kabupaten Kendal dalam bidang kesehatan masyarakat dan lingkungan kembali bergerak untuk mengelola sampah rumah tangga dan limbah rumah tangga.

Kepala Seksi Promosi dan Pemberdayaan Kesehatan Casaeri, SKM, M.Kes, narasumber sekaligus mewakili Sekretaris Dinas Kesehatan dr. Budi Mulyono mengatakan hal tersebut di sela kegiatan Pertemuan Natural Leader Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ), Kamis (14/3/2019) di Ruang Merak Agrowisata Tirto Arum Baru kendal.

Dijelaskannya, dari 5 pilar STBM ( Stop Buang Air Besar Sembarangan/ Stop BABS, Cuci Tangan Pakai Sabun/ CTPS, Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga/ PAM-RT, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga ), di Kabupaten Kendal yang masih belum tertangani dengan baik berkisar pada pilar kempat dan kelima.

“Yang jadi tantangan kita saat ini yaknin pengolahan sampah rumah tangga dan limbah rumah tangga. Sementara ODF sudah kita capai, Cuci Tangan Pakai Sabun dan Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga/ PAM-RT relatif sudah tertangani dengan baik,” ungkapnya.

Disampaikan Casaeri, penerapan sistem 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) menjadi salah satu solusi dalam menjaga lingkungan di sekitar yang murah dan mudah untuk dilakukan di samping mengolah sampah menjadi kompos atau memanfaatkan sampah menjadi sumber listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).

Selain itu, penerapan 3R ini juga dapat dilakukan oleh setiap orang dalam kegiatan sehari-hari. 3R terdiri dari Reuse, Reduce, dan RecycleReuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

“Dengan metode 3 R tersebut kita mencoba untuk menggerakkan masyarakat melalui tokoh masyarakat atau kepala desa / lurah dengan harapan para rokoh masyarakat atau pimpinan desa dan atau kelurahan bisa mengajak serta mempeerngaruhi masyarakat untuk bergerak ke sisi positif dengan mengelola sampah dan air limbah rumah tangga sehingga tidak mencemari lingkungan,” jelasnya.

Kriteria penerapan pada desa yang sudah mendekati STBM atau sudah sebagian besar melaksanakan lima pilar namun belum baik atau belum sempurna. Para tokoh masyarakat atau petugas puskesmas yang terjun sebanyak 60 orang. Masing – masing Puskesmas ( 30 Puskesmas ) menangani dua desa. ( Diskominfo / heDJ )

Berita Terkait