Sembilan Tips Asuh Anak Saat Pandemi Covid-19

16 June 2020
ikp

SEMARANG – Tiga bulan sudah pandemi Covid-19 memaksa anak-anak terkungkung di rumah. Segala kegiatan, termasuk belajar harus dilakukan via gawai. Lambat laun, kebiasaan ini menyebabkan konsentrasi dan suasana hati anak menjadi labil. Lalu bagaimana orang tua menyikapi pola pengasuhan selama wabah?

Tema itulah yang dijadikan dibahas pada obrolan Instagram Ketuan Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Siti Atikoh Ganjar Pranowo melalui akun @atikoh.s, bersama psikolog klinis dan pemerhati tumbuh kembang anak Isti Ilma Patriani (@istiilmap), Selasa (16/6/2020). Ada sembilan tips yang bisa dilakukan orang tua.

1. Ciptakan habit seperti sebelum Covid-19

Wanita yang akrab disapa Ilma ini mengatakan, saat pandemi mau tidak mau anak lebih lekat dengan gadget (gawai). Hal ini jelas perlu dikontrol. Jika tidak, anak justru ketagihan dan rentan akan ancaman dunia maya dan konten-konten negatif.

Oleh karena itu, orang tua perlu mengintervensi kebiasaan tersebut. Caranya, dengan menciptakan kebiasaan atau jadwal seperti yang dilakukan sebelum Covid-19 menyerang. Yang terpenting orang tua ikut terlibat aktif saat anak-anak memegang gawai. Sehingga menghindarkan anak terbuai pada akun-akun yang menghadirkan konten negatif.

“Kalau perlu ciptakan jadwal. jika terbiasa bangun subuh ya kita ajak mereka bangun subuh. Saatnya mereka pegang handphone untuk belajar, ya kita temani mereka belajar. Kalau saatnya mereka main ya silakan saja,” papar Ilma yang juga anggota Pokja I TP PKK Provinsi Jateng.

2. Asah Kreativitas Anak Melalui Dunia Maya

Di era industri 4.0, dunia siber tak bisa dilepaskan dari keseharian anak-anak. Hal itu pun bisa dimanfaatkan untuk mengasah kreativitas anak.

“Bisa dengan mengajarkan vlog (video blog). Itu bisa memngasah kreativitas, meskipun anak dan orang tua berada di rumah,” ungkapnya.

3. Komunikasi

Meskipun orang tua berhak mengintervensi kegiatan anak selama di rumah. Namun, orang tua juga tak boleh melupakan jika anak memunyai aspirasi. Oleh karenanya, segala kegiatan ataupun jadwal harus disusun berdasarkan komunikasi dan persetujuan bersama.

Ilma memaparkan, ada empat pola pengasuhan anak. Pertama adalah permisif, yang cenderung tak konsisten karena membuat peraturan namun tidak ditaati. Kedua otoriter, tipikal ini bersifat kaku, di mana orang tua seolah memegang kendali penuh atas anak mereka.

Ketiga tipe neglected yang arti harafiahnya terlantar. Pola pengasuhan ini, orang tua terkesan cuek meskipun segala kebutuhan si anak dipenuhi oleh orang tua. Keempat, tipe asuh otoritatif.

“Tipe yang keempat ini mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapat. Mereka diberi ruang untuk menentukan pilihan, meskipun orang tua memberikan pertimbangan,” ujar Ilma.

Menurutnya, orang tua harus menerapkan pola pengasuhan yang mengakomodasi aspirasi anak. Sebab, anak zaman sekarang semakin memiliki daya kritis.

4. Kuasai Diri

Selain mengakomodasi aspirasi anak, orang tua juga perlu melakukan introspeksi diri. Ketika sedang mengalami mood yang tidak stabil, orang tua disarankan untuk menyelesaikan masalah terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan anak.

“Orang tua bisa menularkan energi negatif. Oleh karenanya, jika orang tua sedang stress bisa menyelesaikannya dengan berolahraga atau melakukan hobi lainnya. Setelahnya baru berkomunikasi dengan anak,” urainya.

5. Kompak

Selain itu, orang tua juga harus bersepakat dan kompak dalam mengasuh anak selama pandemi. Meskipun sikap dari suami istri memang berbeda, akan tetapi dalam pengasuhan anak mereka harus satu kata.

“Sebaiknya, suami istri membangun chemistry kekompakan dalam berkomunikasi, serta membuat blueprint atau rencana pengasuhan anak. Diskusi antara ibu dan ayah, jangan sampai anak bingung, ayahnya permisif namun ibunya otoriter,” beber Ilma.

6. Beri Contoh

Isti membeberkan, dalam pengasuhan anak orang tua harus berperan sebagai pemberi contoh. Menurutya, ada sebuah pepatah Inggris “I do I Understand”, “I See I Remember”. 

“Kalau mau ajarkan anak mengontrol gadget ya harus memberi contoh. Jangan malah pegang-pegang handphone kelamaan dan belanja-belanja online. Nanti malah ditertawakan oleh anak,” ujar Isti.

7. Anggap Teman

Siti Atikoh menambahkan, dalam mengasuh anak, orang tua juga perlu memosisikan diri sebagai teman. Itu dilakukannya, saat mengasuh anak semata wayangnya Zinedine Alam Ganjar Pranowo.

“Alam itu benar-benar stay at home, keluar pas ambil raport saja. Dia setiap hari ada jadwal khusus bertemu dengan sepupu dan teman-temannya, saya menemaninya dan ikut menyimak pembicaraan. Meskipun ngobrolnya receh-receh, saya ikut menemani,” paparnya.

8. Pahami Karakter Anak

Orang tua juga perlu memahami karakter anak. Ia menyebut ada empat tipe kepribadian anak.

Pertama tipe sanguinis, yakni mereka yang cenderung aktif, optimis, dan riang. Kedua plegmatis, adalah mereka yang memiliki kepribadian cinta hidup damai. Ketiga koleris, yakni orang yang berorientasi pada tujuan. Keempat adalah melankolis, mereka yang sangat menyukai tradisi.

“Kita juga harus mengetahui karakter si anak. Misalnya, anak yang lebih sensitif memerlukan tipe pengasuhan yang penuh kelembutan pas ngobrol menatap mata sejajar dan sejenisnya,” papar Ilma.

9. Happy Parenting

Terakhir, Ilma membeberkan pola pengasuhan anak terutama di masa Covid-19 adalah sesuatu yang menyenangkan. Ia menyebut, tidak ada panduan yang pasti terkait pola asuh.

Parenting adalah seni, mari kita lakukan dengan senang. Terlihat sulit memang, tapi bisa dipelajari dan diasah. Berikan waktu untuk anak-anak kita, jangan hanya sisihkan serta beri keteladanan,” pungkasnya. (Pd/Ul, Diskominfo Jateng)

Skip to content