Purnatugas, Gatot “Lulus Cumlaude”

28 December 2018
ikp

Semarang – Guru memegang peran sentral dalam menghadapi tantangan era globalisasi. Guru tak sebatas mengajar, namun lebih dari itu, menjadi pendidik yang juga menanamkan budi pekerti kepada siswanya. Untuk itu, profesionalitas mutlak dimiliki guru, untuk mencetak generasi muda terpelajar dan berkarakter.

“Saya mencanangkan tiga smart di sekolah kita, yaitu guru harus smart learning, smart thinking dan smart doing. Guru harus kita latih agar semakin profesional, termasuk bagaimana kita memanfaatkan teknologi di era revolusi industri 4.0,” tegas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah Drs Gatot Bambang Hastowo MPd saat menerima Surat Keterangan (SK) Purnatugas dari Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP di Aula Ki Hajar Dewantoro, Kantor Disdikbud Jateng, Jumat (28/12).

Gatot menambahkan, pada era global saat ini, negara di lingkup Asia Tenggara tak hanya menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), namun juga revolusi industri 4.0. Tantangan revolusi industri itu salah satunya otomatisasi. Sehingga pada masa mendatang, pekerjaan yang sifatnya manual semakin berkurang karena pemanfaatan teknologi. Sumber daya manusia Indonesia pun dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi diri karena hanya mereka yang mumpuni, yang dapat bekerja lintas negara.

“Pekerja Indonesia bisa bekerja di Singapura, Jepang, dan negara lainnya dengan catatan memiliki kompetensi diri atau mumpuni,” lanjutnya.

Gatot menjelaskan, demi menghadapi segala tantangan tersebut, siswa pun harus diajarkan keterampilan berkolaborasi dan berkomunikasi yang baik.

Senada dengan Gatot, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP berpendapat, sosok guru memang harus senantiasa meningkatkan kompetensi diri agar dapat mengajar dan mendidik siswa dengan metode yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Smart learning, smart thinking, dan smart doing itu memang sangat penting. Kita perlu mengembalikan guru sebagaimana fungsinya. Tidak hanya pandai mengajar tapi juga mendidik,” ujarnya.

Suasana haru pun menyeruak ketika Sri Puryono menyampaikan kesannya selama Gatot Bambang Hastowo menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Kepemimpinan Gatot diuji salah satunya dengan instruksi pemerintah pusat tentang alih kewenangan SMA, SMK, dan SLB yang semula berada di bawah naungan pemerintah kabupaten/ kota kepada pemerintah provinsi. Sri Puryono berpendapat, Gatot cukup sigap menata kembali organisasi, personel, dan aset.

“Selama kurang lebih dua tahun Pak Gatot menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, itu bukan tugas yang ringan. Waktu itu kita mengalami alih kewenangan SMA, SMK, SLB sekaligus ke pemerintah provinsi. Kita menata personel, organisasi, dan aset. Alhamdulillah Pak Gatot lulusnya cumlaude,” pujinya.

Sri Puryono juga meminta, segenap ASN di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah untuk menjaga solidaritas dan menjalin komunikasi yang baik, agar iklim organisasi kondusif.

“Kekompakan seperti ini perlu dijalin. Nyambut gawe ora mung hubungan atasan-bawahan, tetapi harus benar-benar berkolaborasi antara pimpinan dan staf,” pesannya.

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Foto : Humas Jateng

Skip to content