Pramuka Diminta Bekali Diri dengan Wirausaha

12 March 2019
Bidang KPM
Pramuka Diminta Bekali Diri dengan Wirausaha

Purbalingga – “Siapa yang bisa menjelaskan dampak bonus demografi, baik dari manfaat maupun tantangannya?”

Pertanyaan itu dilontarkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menghadiri Jumpa Tokoh Raimuna Wilayah Binwil Banyumas di Bumi Perkemahan Munjulluhur, Senin malam (11/3/2019). Ananda Fatika, salah seorang kontingen putri asal Kabupaten Cilacap pun mengacungkan jari. Dengan lantang, gadis yang akrab disapa Nanda itu menjelaskan, di satu sisi bonus demografi dapat mendorong suatu negara berkembang menjadi negara maju, apabila banyaknya sumber daya manusia yang masuk dalam kategori usia produktif itu benar-benar berkompeten. Di sisi lain, jika banyaknya SDM usia produktif tidak memiliki bekal keahlian, akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran di negara tersebut.

“Bonus demografi adalah keadaan di mana suatu negara memiliki jumlah penduduk produktif lebih banyak dari penduduk nonproduktif. Apabila SDM usia produktif tidak memanfaatkan potensi bonus demografi ini dengan baik, mungkin negara ini menjadi negara dengan tingkat pengangguran tertinggi,” jelasnya.

Jawaban itu pun diapresiasi Gubernur Ganjar. Menurutnya, generasi muda yang berpendidikan dan mulai membekali diri dengan keterampilan wirausaha, mampu mendorong negara ini menjadi negara maju. Orang nomor satu di Jawa Tengah itu menjelaskan, saat ini semakin banyak kaum muda yang merintis usaha sebagai socio-enterpreneur dan membantu masyarakat di sekelilingnya.

“Kalau banyak anak muda yang produktif, apalagi berpendidikan, maka negara ini akan menjadi negara besar karena jauh lebih produktif. Sekarang anak-anak muda membuat aplikasi, bermacam-macam, mereka menjadi socio-enterpreneur dengan passion masing-masing,” ujarnya.

Gubernur mencontohkan, salah seorang anak penjual kupat tahu yang menginspirasi asal Wonosobo bernama Tio. Saat berusia 16 tahun, Tio mulai membuat platform bisnis bernama Wonosobo.com yang dipersembahkan untuk pemerintah kabupaten.

“Dia kemudian ikut tender untuk membuat itu. Sekarang aplikasinya bernama Bahaso, sebuah aplikasi untuk belajar bahasa asing. Dia anak yang tertarik untuk bisa hidup mandiri dan sekarang anaknya sukses, duitnya datang sendiri,” beber mantan anggota DPR RI ini.

Ganjar melanjutkan, dengan bertambahnya jumlah penduduk di beberapa penjuru dunia, tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks. Setidaknya ada tiga persoalan yang dialami oleh masyarakat dunia saat ini, yaitu ketersediaan pangan, energi, dan air. Persoalan tersebut tentunya harus ditangani secara bijak.

Pihaknya mencontohkan, negara Islandia pernah mengalami kebangkrutan karena bergantung pada energi fosil. Namun negara itu berhasil bangkit dan beralih pada pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

“Islandia pernah bangkrut negaranya karena menggunakan bahan bakar fosil. APBN-nya tekor. Sekarang dia reborn karen menggunakan panas bumi,” katanya memberi contoh.

Alumnus UGM itu membeberkan, dalam menghadapi persoalan energi, Indonesia juga terus mengembangkan pemanfaatan EBT yang ramah lingkungan agar tidak selalu bergantung pada penggunaan energi fosil. Energi panas bumi merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki bangsa ini.

“Energi panas bumi adalah salah satu kekayaan yang kita miliki, karena kita punya gunung berapi. Manfaatnya, lahannya subur, pemandangannya indah. Selain itu, selagi magma masih ada, maka selama itu kita punya panas bumi,” tandas Ganjar.

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Foto : Vi, Humas Jateng

Mascot Padhang
Skip to content