SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melaksanakan ibadah salat tarawih kedua ini bersama Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko A Dahniel dan Pangdam IV/ Diponegoro Mayjen TNI Mohammad Efendi, di Wisma Perdamaian Semarang, Senin (6/5/2019). Kegiatan itu merupakan rangkaian awal tarawih keliling (tarling) yang bakal dilakukan Ganjar selama Ramadan 1440 H.
Gubernur tiba di Wisma Perdamaian tepat pukul 19.00 WIB bersama istri, Siti Atikoh dan putra semata wayangnya Muhammad Zinedine Alam. Kedatangannya disambut Pangdam, Kapolda dan Sekretaris Daerah Jateng. Setelah rehat sejenak, Ganjar beserta rombongan langsung menempati shaf pertama untuk melaksanakan ibadah salat isya dan tarawih.
Bertindak sebagai imam Ketua Majelis Ulama Indonesia Jateng, KH Akhmad Daroji dan pemberi tausiyah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jateng KH Farkhani. Ibadah salat isya dan tarawih keliling tersebut merupakan pelaksanaan pertama dari rangkaian tarling yang diselenggarakan Badan Amalan Islam (BAI) Pemprov Jateng dari Senin 6 Mei hingga Rabu 26 Mei mendatang. Selain pimpinan tinggi di Jateng, gedung Wisma Perdamaian juga dipenuhi masyarakat sampai meluber ke halaman.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, kekhusyukan mesti menjadi tujuan utama menjalani hidup di sepanjang Ramadan.
“Ini agar dijadikan mutiara renungan pribadi. Ada tiga catatan jenis puasa, puasa orang awam, puasanya orang istimewa dan puasa orang tingkat tinggi,” katanya.
Dijelaskan, puasanya orang awam adalah puasa yang sekadar merasakan lapar dan haus. Ini puasa ketika masih kecil, yang selalu bertanya-tanya kolaknya sudah matang atau belum, yang selalu terganggu dengan aroma masakan ibu.
“Ketika ibu masak atau nyambel terasi, wah itu cukup mengganggu konsentrasi. Aroma masakan itu luar biasa mengganggu. Semoga sekarang tingkatan puasa kita sudah naik kelas,” papar mantan anggota DPR RI ini.
Untuk meningkatkan kualitas puasa, Ganjar berharap masyarakat rela berbagi, khususnya berbagi menu puasa. Hal itu agar persaudaraan semakin erat, terlebih pada mereka yang kemarin berbeda pilihan politik.
“Punya gedang (pisang) goreng kirim ke tetangga, punya kolak dikirim, punya masakan apapun kirim ke tetangga, berbagai menu buka puasa pada saudara kita. Termasuk pada yang beda pilihan politik kemarin,” ujarnya.
Sementara itu, KH Farkhani mengatakan, tidak ada alasan bagi warga Indonesia untuk mengeluh atau tidak taat dalam menjalankan ibadah puasa.
“Kita bersyukur melaksanakan ibadah puasa di Indonesia karena durasinya hanya sekitar 13 jam. Sementara durasi puasa negara di belahan bumi bagian utara mencapai 22 jam. Ini juga harus kita syukuri,” katanya.
Penulis : Ib, Humas Jateng
Editor : Ul, Diskominfo Jateng



