Jateng Patut Jadi “Role Model” Pengelolaan Zakat

26 December 2018
ikp

Semarang – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Tengah mulai melakukan akselerasi lebih kencang untuk turut menyelesaikan persoalan kemasyarakatan. Untuk itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung menanting atau menanyakan kesanggupan aparatur sipil Negara (ASN) siap atau tidak jika pendapatannya langsung dipotong zakat.

Ketua Baznas Jateng KH Akhmad Daroji menyampaikan, pada 2018 zakat yang dikelola Baznas Jateng mencapai Rp31,7 miliar. Dana tersebut diperoleh dari berbagai sumber, mulai zakat sukarela dari ASN sampai zakat perorangan.

Alhamdulillah peruntukannya banyak hal, dari pendidikan, pengentasan kemiskinan sampai penanggulangan kebencanaan. Sesuai syarat distribusi atau pentasharufan zakat,” katanya dalam Rakor Baznas Provinsi Jawa Tengah yang diikuti Pimpinan SKPD, BUMN/ BUMD, Ketua Baznas kabupaten/ kota se-Jateng, di Wisma Perdamaian, Rabu (26/12).

Daroji merinci perolehan zakat dari ASN pada 2018 sebanyak Rp30,75 miliar, BUMN/ BUMD Rp546.499.125, instansi vertikal Rp379.014.947, serta zakat perseorangan Rp79.739.513. Daroji mengatakan tahun depan Baznas bakal lebih kencang bergerak dalam membantu pengentasan kemiskinan.

“Kami berharap mengurangi proposal yang masuk ke pak gubernur, biar masuk ke Baznas saja. Musuh utama kita adalah pelit. Kita akan berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan caranya memberi pelatihan dan memberikan alat untuk kerja. Kami juga akan membuat Baznas microfinance, bagi pengusaha kecil yang pengin pinjaman bisa pinjam di Baznas tanpa bunga. Juga akan membuat SMK industri dan perdagangan, mencetak calon pengusaha,” ungkapnya.

Mendengar pemaparan pria yang juga menjabat Ketua MUI Jateng itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang didampingi Wakil Gubernur Gus Yasin Maimoen menjadi semakin bersemangat ngompori ASN untuk membayar zakat. Bahkan di hadapan hadirin yang sebagian besar pegawai negeri itu, Ganjar menganalogikan siapa sebenarnya yang disebut orang pelit.

“Orang bayar zakat itu bergantung dari cara melihatnya. Kalau melihatnya uangnya kurang berapa, wah berarti pelit. Mestinya yang dilihat adalah sisanya berapa, insya Allah rizkinya berkah. Saya haqqul yakin, bayar zakat ki ora gawe melarat,” beber mantan anggota DPR RI ini.

Kepada ASN yang duduk di hadapannya, Ganjar sebenarnya hendak langsung memutuskan kewajiban membayar zakat, namun dia memilih untuk menanting atau menanyakan kesanggupannya, karena pemanfaatan zakat itu untuk hal yang produktif. Di antaranya membangun sekolah, sertifikasi guru Madin, rumah sakit dan penanggulangan kemiskinan.

“Setuju tidak, gaji anda langsung dipotong masuk rekening untuk bayar zakat? Dipotong kan otomatis minimum 2,5 persen dari gaji. Bagi PNS yang gajinya minus, silakan nanti bersaksi kepada pengelola zakat, demi Allah gaji saya minus, nanti kita zakati,” seloroh gubernur.

Kalau setuju, dia meminta potensi zakat dinaikkan dengan sistem yang lebih modern atau digitalisasi, serta menyiapkan regulasinya. Selain itu, perlu inovasi manajemen agar lebih modern, seperti auto potong pendapatan. Kepada bupati walikota yang belum membentuk Baznas, gubernur meminta segera dibentuk.

“Kita bisa menginjak regulasi lebih modern. Setuju tidak, dari seluruh pendapatan dizakati? Disekseni Romo kiai, disekseni malaikat dan Gusti Allah. Izin pak Kiai (KH Akhmad Daroji) bantu kami untuk menyusun regulasinya,” terang Ganjar.

Sementara itu Wakil Ketua Baznas Pusat Zainulbahar Noor menyampaikan bangganya dengan sistem yang diterapkan dalam pengelolaan zakat di Jawa Tengah. Bahkan menurutnya Jawa Tengah patut dijadikan role model pengumpulan dan pengelolaan zakat.

“Perkembangannya sangat luar biasa. Saya yakin Jawa Tengah bisa jadi role model nasional. Saat ini kami di pusat terus mendorong agar Presiden mengeluarkan peraturan pembayaran zakat bagi seluruh aparatur sipil negara,” tandasnya.

Penulis : Ib, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Skip to content