Jadilah Generasi Cemerlang

  • 04 Oct
  • bidang ikp
  • No Comments

Sragen – “Bagaimana pemikiran dan sikap santriwan-santriwati terhadap radikalisme dan narkoba?”

Pertanyaan itu dilontarkan Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maimoen, saat menghadiri Sarasehan Pondok Pesantren¬† bertajuk “Santri Keren, Santri Pelopor Anti Radikalisme dan Narkoba”, di SMA Pesantren Walisongo, Kamis (4/10).

M Rozan, siswa kelas XII IPA, dengan tegas menjawab dia sebagai santri tentu akan menolak radikalisme dan penggunaan narkoba. Selain bertentangan dengan ajaran agama, radikalisme juga tidak selaras dengan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Sementara, narkoba juga merugikan generasi muda apabila mereka mengonsumsinya. Karena selain menggerogoti kesehatan tubuh, narkoba juga dapat merusak pemikiran, sikap, dan perilaku penggunanya.

“Menurut saya, radikalisme dan narkoba adalah musuh nyata bagi bangsa Indonesia karena bertentangan dengan ideologi Pancasila. Pancasila ideologi yang tumbuh dan berkembang dari Indonesia sendiri yang harus kita junjung dan kita bela,” tegas pemuda itu.

Jawaban Rozan diamini oleh Wagub Taj Yasin Maimoen. Mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah itu berpendapat, sikap intoleransi, radikalisme, terorisme, dan arus globalisasi membawa nilai-nilai budaya barat yang apatis, hedonis, dan materialistik. Sehingga masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa yang harus diselesaikan bersama. Selain itu, narkoba juga menjadi ancaman nyata bagi remaja.

“Berdasarkan data BNN, korban penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di Jawa Tengah tahun 2017 mencapai lebih dari 523 ribu orang, dan 27 persen di antaranya adalah pelajar. Maka memberikan pondasi agama yang kuat serta membekali pendidikan moral, karakter, dan etika merupakan faktor penting yang akan menjadi kompas bagi generasi bangsa agar tidak salah arah, sehingga tidak kekeringan nilai,” jelasnya.

Putra ulama kharismatik KH Maimoen Zubair itu menambahkan, faktor lain yang juga memegang peranan strategis dalam mengatasi permasalahan bangsa tersebut adalah hadirnya institusi pendidikan yang berkualitas. Pihaknya berharap, pondok pesantren dapat muncul sebagai solusi atas permasalahan ancaman radikalisme dan narkoba. Taj Yasin mengutip data dari Kanwil Kemenag Jateng bahwa pada tahun 2016 Jateng menempati urutan tiga tingkat nasional sebagai daerah dengan jumlah pesantren terbanyak.

“Di Jateng terdapat 4.759 pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai 614.569 santri. Di pesantren, landasan moral dan agama begitu kuat diajarkan, sehingga para santri mampu menyerap nilai-nilai tersebut dan pesantren mampu menghasilkan SDM yang mempunyai karakter akhlakul karimah serta mempunyai moral sesuai ajaran Islam,” lanjutnya.

Taj Yasin ingin, Jateng memiliki pesantren vokasi. Hal ini untuk mendorong pesantren tidak semata-mata mengembangkan kesyariahan atau pendidikan agama Islamnya, tetapi juga memastikan  pesantren dapat melahirkan tenaga kerja siap pakai.

“Terpenting, pondok pesantren juga harus mampu merawat nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan dalam balutan ukhuwah Islamiah. Kita semua sepakat bahwa Islam itu menjunjung tinggi perbedaan, mengandung nilai-nilai toleransi, gotong-royong, perdamaian, keberagaman, dan cinta kasih pada sesama manusia, memanifestasikan sikap Islami yang rahmatan lil alamin. Kaum muda, jadilah generasi yang cemerlang untuk negara ini,” pungkasnya.

 

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Foto : Humas Jateng

Berita Terkait