Akuntan Dibutuhkan Hingga Tingkat Desa

11 February 2020
ikp

SEMARANG – Memilih jurusan saat hendak masuk ke perguruan tinggi, seringkali menjadi pertimbangan untuk menentukan perjalanan karir di masa depan. Namun faktanya, banyak orang yang akhirnya mendapatkan pekerjaan tidak sesuai dengan jurusan yang dipelajarinya saat kuliah.

“Sebagai calon lulusan sarjana akuntansi, pos-pos pekerjaan apa nantinya, yang sesuai dengan concern kita di kampus. Karena banyak orang yang bekerjanya jauh sekali dengan apa yang kita pelajari di kampus,” tanya Syaiful, mahasiswa Jurusan Akuntansi Undip kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, pada kegiatan Kuliah Kerja Lapangan di Wisma Perdamaian, Senin (10/02/2020)

Syaiful menuturkan, sebagai calon lulusan Sarjana Akuntansi, tentu dia ingin bekerja dan mengabdikan diri sesuai dengan ilmu yang dipelajari. Dengan begitu, sekolahnya tidak menjadi sia-sia. Dia juga menanyakan, skill tambahan apa saja yang harus dimiliki untuk mendapatkan pekerjaan impian sebagai akuntan.

Merespon pertanyaan tersebut, Wagub yang akrab disapa Gus Yasin menyampaikan, di pemerintahan, tenaga akuntansi dibutuhkan di semua SKPD. Mengapa demikian? Sebab, masing-masing SKPD memiliki perencanaan kegiatan dan anggaran. Untuk mendapatkan tenaga akuntan yang ahli dalam perencanaan pun, tidak mudah. Maka, setiap calon sarjana akuntansi yang memiliki impian bekerja di pemerintahan, diharapkan memiliki skill sistem akuntansi pemerintahan.

Meski begitu, Gus Yasin mengingatkan agar calon sarjana akuntansi tidak hanya punya mindset untuk bekerja di pemerintahan.  Sebab, tenaga akuntan juga dibutuhkan di sektor lain. Salah satunya yang saat ini sangat dibutuhkan adalah akuntan untuk mendampingi desa.

“Perlu diingat bahwa akuntan tidak hanya dibutuhkan di pemerintahan, tapi desa juga membutuhkan akuntan. Apalagi saat ini desa mendapatkan dana desa antara Rp800 juta sampai Rp1,5 miliar. Dana ini harus dikelola dengan baik. Ini membutuhkan SDM unggul,” kata dia.

Gus Yasin memberikan gambaran lebih jelas dengan mencontohkan rencana penganggaran di desa. Misalnya, desa akan membuat pariwisata dengan membuat taman artifisial yang instagramable, maka akuntan berperan menganalisa rencana tersebut. Apakah ada pariwisata serupa yang jaraknya dekat, bagaimana konsep taman yang akan dibangun, berapa potensi wisatawan yang datang setelah taman dibangun, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk membuat taman, dan berapa lama anggaran yang dikeluarkan akan balik modal.

“Maka perencanaan ini dibutuhkan. Mungkin 10 tahun yang lalu profesi akuntan tidak dibutuhkan. Namun sekarang berbeda,” bebernya. (Humas Jateng)

Skip to content