Tekan AKI dan anak, Dinkes Tingkatkan Pelayanan

04 January 2019
yandip prov jateng

Kota Pekalongan, Info Publik – Angka kematian ibu (AKI) dan anak di Kota Pekalongan dinilai masih tinggi. Hal ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kota Pekalongan untuk terus gencar menekan angka kematian tersebut dengan peningkatan pelayanan. Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Kamis (03/01/2019).

Terkait hal ini, Dinas Kesehatan Kota Pekalongan akan memperkuat kemampuan pelayanan kesehatan dari hulu hingga hilir dimulai dari petugas kesehatan di lapangan terutama pegawai puskesmas dan bidan yang ada untuk mendeteksi lebih dini dalam mengawal ibu hamil yang memiliki risiko tinggi, dikawal hingga proses persalinan.

Disampaikan Budi, di tahun 2018 tercatat 7 kasus kematian Ibu, 60 kasus kematian bayi, dan 14 kasus kematian balita. Menurutnya, sektor kesehatan yang akan ditekankan adalah menurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita serta kasus gizi buruk pada balita.

“Dari indikator yang ada, beberapa sudah tercapai dan belum kita capai. Angka kematian ibu bisa kita tekan meskipun belum signifikan, tahun 2017 lalu ada 10 kasus kematian ibu, sedangkan di tahun 2018 ini ada 7 kasus, kebanyakan dari 7 itu meninggal di rumah sakit. Kami harap bisa menekan hingga lima,  tetapi di akhir tahun malah muncul dua.  Meskipun turun angka 7 tersebut, masih tinggi untuk ukuran kota di Jawa Tengah,” ucap Budi.

Di lain sisi, angka kematian bayi  terjadi peningkatan terkait dengan kasus ibu hamil yang Kekurangan Energi Kalori (KEK) dan Risiko Tinggi (Risti). Dari data Dinkes Kota Pekalongan tercatat pada tahun 2017, ada 58 angka kematian bayi,  sedangkan tahun 2018 terdapat 60 lebih kasus kematian bayi yang terjadi di Kota Pekalongan.

“Dengan banyaknya ibu hamil yang mengalami Risti dan KEK saat mengandung, konsekuensinya adalah bayi dilahirkan tidak sehat. Itulah yang memicu jumlah angka kematian bayi tinggi. Dilema yang kita hadapi seperti saat kita ingin mempertahankan ibu nya, maka anaknya lah yang harus di korbankan,” imbuh Budi.

Lebih lanjut, Budi mengatakan bahwa berbagai faktor di lapangan masih sering terjadi meliputi kurangnya pengawasan, ekonomi, lingkungan dan sebagainya. Oleh sebab itu, perlu adanya peran bersama dalam menekan angka kematian tersebut.

“Dinkes Kota Pekalongan telah melakukan rapat koordinasi dengan rumah sakit dan para tenaga medis untuk terus meningkatkan pelayanan. Seluruh rumah sakit dan puskesmas di Kota Pekalongan kini telah terakreditasi serta akan ada penambahan dua puskesmas bersalin yang semula hanya ada empat. Kami harap dengan peningkatan pelayanan kesehatan di Kota Pekalongan bisa membantu memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat,” pungkasnya.

Skip to content