
SOLO – Minggu (27/8) Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental resmi ditutup. Penutupan dimeriahkan dengan Kirab Karnaval Revolusi Mental yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kota kabupaten peserta Pekan Kerja Nyata. Kirab dimulai dari Stadion Sriwedari hingga depan Benteng Vastenburg. Karnaval dipimpin langsung oleh Wali Kota Surakarta, Plt Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri yang kompak mengenakan pakaian adat Jawi Jangkep.
Karnaval Revolusi Mental ditutup oleh tarian kolosal yang berpesan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik itu mungkin untuk dilakukan, asalkan individu-individu yang ada di masyarakat mau berubah ke arah yang baik. Pertunjukan ini sukses mengundang antusiasme masyarakat yang menyemut sepanjang rute karnaval. Walikota Surakarta, FX. Hadi Rudyatmo mengapresiasi pelaksanaan kirab yang tertib serta pertunjukan tari kolosal yang menggambarkan Garuda Pancasila dalam menumpas pengaruh buruk di masyarakat.
“Sangat positf, kita dapat meliha bahwa Garuda Pancasila kalau dipegang teguh akan mengusir pengaruh buruk di masyarakat,” jelas Walikota.
Menanggapi Pekan Kerja Revolusi Mental yang telah dilaksanakan selama tiga hari, Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, mengajak seluruh rekan yang berkerja di birokrasi untuk mau berubah.
“Tuhan sudah melengkapi kita, Pak, Bu. Sekarang urusannya tinggal kita mau apa ndak saja. Bahwa jika mental sudah dimulai dengan kejujuran, ASN yang melayani dan beretos kerja akan muncul dengan sendirinya.,” ucap Walikota Surakarta.
Hal ini senada dengan pesan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, pada pembukaan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental, yang meminta aparatur sipil negara untuk menjadi contoh bagi masyarakat untuk menerapkan revolusi mental.
“Revolusi mental itu bukan jargon. Revolusi mental nyata, Bapak dan Ibu pelaku inovasi inilah buktinya!” tegasnya.
