PURBALINGGA – Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin menilai pelaksanaan Proyek Scalable Public Health Empowerment Research and Education Sites (SPHERES) di Kabupaten Purbalingga berjalan dengan baik. Bahkan, program ini akan diimplementasikan secara bertahap di seluruh Indonesia dalam jangka waktu tiga tahun.
Menurut Menkes, program tersebut tidak hanya memperkuat pencatatan data kesehatan, tetapi juga membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang lebih cepat dan tepat kepada masyarakat.
“Program SPHERES di Purbalingga bagus sekali. Mudah-mudahan nanti bisa jadi contoh untuk diimplementasikan di 514 kabupaten kota seluruh Indonesia. Saya minta kalau bisa dalam tiga tahun bertahap bisa diterapkan di seluruh puskesmas di Indonesia,” kata Budi, saat mengunjungi Posyandu Lestari 5 Bancar, Puskesmas Purbalingga, serta Public Health Data Theatre (PHDT) Dinas Kesehatan Purbalingga, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, SPHERES merupakan bagian dari upaya transformasi digital layanan kesehatan primer di puskesmas dan posyandu. Program ini adalah bentuk kolaborasi antara Oxford University Clinical Research Unit, Kemenkes RI, dan Gates Foundation, untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis data dan teknologi digital.
“Memang kita ada kerja sama untuk mengimplementasikan digitalisasi layanan di puskesmas dan posyandu. Jadi, satu percontohan di Lombok Barat dan satu lagi di Purbalingga. Sekarang kita melihat progres programnya seperti apa,” ujarnya.
Budi menegaskan digitalisasi layanan kesehatan bukan sekadar mengumpulkan data, tetapi bagaimana data tersebut dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan masyarakat dan mencegah penyakit, sejak dini.
“Tujuannya bukan hanya data. Data itu harus dipakai agar masyarakat kita lebih sehat. Misalnya kasus darah tinggi, kalau didiamkan bisa menjadi stroke, jantung, atau gagal ginjal. Dengan data ini kita bisa tahu siapa yang perlu ditangani lebih dulu, supaya tidak sampai dirawat di rumah sakit,” jelasnya.
Ia juga menilai integrasi sistem dalam program ini dapat mengurangi beban tenaga kesehatan.
“Tenaga di puskesmas dan posyandu itu terlalu banyak aplikasi. Dengan sistem yang terintegrasi seperti ini diharapkan mereka bisa lebih fokus melayani masyarakat, bukan sibuk mengisi laporan,” katanya.
President of Global Development Gates Fondation, Chris Elias, menilai implementasi SPHERES di Purbalingga menjadi awal yang baik dalam penguatan sistem kesehatan berbasis data.
“Ini adalah awal yang sangat baik. Anda memiliki banyak data yang sudah interoperable. Tantangannya sekarang adalah bagaimana data tersebut digunakan secara real time untuk melakukan perbaikan layanan, secara langsung,” katanya.
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif menyampaikan, program SPHERES membantu pemerintah daerah memahami kondisi kesehatan masyarakat secara lebih akurat.
“Sekarang kami bisa melihat data riil kesehatan masyarakat secara real time, sehingga kebijakan dan program prioritas bisa langsung ditentukan berdasarkan data tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini menilai program ini memungkinkan deteksi dini masalah kesehatan.
“Pelayanan kesehatan menjadi lebih cepat dan kondisi kesehatan masyarakat bisa terdeteksi lebih dini, sehingga penanganannya juga lebih cepat,” katanya.
Sebagai informasi, Pemkab Purbalingga juga menunjukkan aplikasi Bidanku, sebuah sistem informasi pencatatan data pasien yang akan terintegrasi langsung ke berbagai sistem kesehatan nasional. Teknologi Optical Character Recognition (OCR) juga memungkinkan bidan mencatat data, dengan cara memotret halaman Buku KIA, sehingga data otomatis masuk ke sistem tanpa pencatatan ulang.

Penulis: Dhs, Kominfo Purbalingga
Editor: Tn, Komdigi Jateng
