Kejar Target, Wonosobo Perluas Layanan Cek Kesehatan Gratis

17 April 2026
Yandip Prov Jateng (1)

WONOBOSO – Tahun ini, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Wonosobo akan menyasar 502.052 jiwa atau sekitar 54 persen dari 929.725 jiwa penduduk setempat.

Guna mengejar capaian tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo menerapkan sistem jemput bola.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, mengatakan, layanan CKG kini dapat dilaksanakan berdasarkan permintaan masyarakat, termasuk di lingkungan OPD, perusahaan, komunitas, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Layanan CKG juga didukung oleh 24 (unit) puskesmas, 5 (unit) rumah sakit, serta 9 (unit) klinik pratama mitra BPJS yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo. Kolaborasi lintas fasilitas kesehatan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan sekaligus mempermudah akses masyarakat dalam mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh,” ungkap Jaelan, pada acara Kickoff Pelaksanaan CKG Tahun 2026 di Hotel Dafam, Rabu (16/4/2026).

Ia menjelaskan, pada 2025, sebanyak 360.851 orang warga Wonosobo telah mengikuti program CKG. Jumlah tersebut setara dengan 39,20 persen dari total sasaran 920.506 jiwa. Bahkan, capaian tersebut melampaui rata-rata Provinsi Jawa Tengah, yakni sebesar 37,73 persen.

Menurutnya, capaian ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, keberhasilan program juga didukung oleh strategi pendekatan yang tepat, khususnya kelompok usia sekolah dan remaja yang mencatatkan capaian tertinggi sebesar 79,35 persen. Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas seperti sekolah dan pondok pesantren menjadi faktor utama keberhasilan tersebut karena memudahkan proses penjangkauan, sasaran secara kolektif. Sementara itu, capaian di kelompok bayi baru lahir sebesar 33,97 persen, balita dan anak prasekolah 32,66 persen, kelompok dewasa 24,67 persen, serta lansia 15,99 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan strategi layanan pada kelompok usia lainnya.

Program CKG, imbuhnya, juga menghasilkan data penting terkait kondisi kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil CKG, sebanyak 23,98 persen masyarakat mengalami hipertensi dan lebih dari 30 persen berada pada kondisi prehipertensi. Selain itu, 28,63 persen masyarakat mengalami obesitas sentral, disertai temuan kasus hiperkolesterol dan peningkatan kadar gula darah yang mengarah pada prediabetes. Sebanyak 237 orang juga terdeteksi menderita Diabetes Melitus.

Kadinkes menambahkan, kondisi tersebut diperparah oleh rendahnya tingkat aktivitas fisik masyarakat. Ia menyebutkan hanya sekitar 2,4 persen masyarakat yang memiliki aktivitas fisik cukup, sementara sebagian besar lainnya tergolong kurang aktif. Di sisi lain, lebih dari 20 persen responden mengaku sebagai perokok.

Kondisi ini, ujarnya, menjadi faktor risiko utama yang dapat memicu meningkatnya penyakit kronis di masa depan jika tidak ditangani sejak dini.

Dijelaskan, di kelompok anak, program ini juga mengidentifikasi sejumlah permasalahan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Tercatat sebanyak 155 anak usia 1–4 tahun termasuk dalam kategori tengkes berat, 6,23 persen bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Selain itu, 56,04 persen anak usia 1–6 tahun dan 66,72 persen kelompok dewasa dan lansia mengalami permasalahan gigi.

Ia menilai kondisi ini menunjukkan pentingnya intervensi yang lebih terintegrasi, baik melalui layanan kesehatan maupun edukasi di tingkat keluarga dan masyarakat.

Menurut Jaelan, Program CKG memiliki peran strategis dalam memperkuat layanan kesehatan dasar, khususnya aspek deteksi dini. Program ini dirancang untuk menjangkau masyarakat yang masih sehat atau belum menunjukkan gejala, sehingga faktor risiko dapat diidentifikasi lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius. Ia menegaskan pendekatan ini merupakan upaya di tingkat hulu untuk menekan beban penyakit di hilir.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan juga memastikan setiap hasil pemeriksaan tidak berhenti pada tahap deteksi, tetapi dilanjutkan dengan penanganan yang terintegrasi.

“Tata kelola tindak lanjut menjadi fokus utama agar masyarakat yang terdeteksi memiliki faktor risiko dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat. Kami berharap, masyarakat tetap sehat dan tidak jatuh pada kondisi penyakit yang lebih berat,” harapnya.

Jaelan juga mengimbau masyarakat untuk aktif memanfaatkan layanan ini dengan mengunduh dan mengisi skrining mandiri melalui aplikasi Satusehat Mobile, memastikan kepesertaan JKN atau BPJS dalam kondisi aktif, serta membawa identitas diri saat melakukan pemeriksaan. Bagi masyarakat berusia di atas 40 tahun, dianjurkan untuk berpuasa selama 8–10 jam sebelum pemeriksaan laboratorium guna memperoleh hasil yang lebih akurat.

Penulis: Sofyan, Kontributor Wonosobo
Editor: Tn, Komdigi Jateng

Skip to content