PURBALINGGA, INFO – Achmad Sirojuddin atau yang akrab disapa Juddin, salah satu staff di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Purbalingga mengatakan saat ini kecintaan seseorang pada buku relative masih rendah. Apalagi dengan pesatnya perkembangan teknologi membuat orang kini dimanjakan dengan kecanggihan teknologi.
Kemudahan untuk melakukan pencariaan di Google terkait informasi yang diinginkan, membuat seseorang mulai malas untuk membaca maupun mencari informasi di buku. Namun, menurut Juddin membaca di buku maupun di gawai akan mendapatkan informasi yang berbeda.
“Kalau kita mencari informasi di Google itu kan hanya rangkumannya saja, jadi tidak menyeluruh pembahasannya. Sedangkan kalau kita membaca buku, buku itu mencakup berbagai informasi yang lebih detail dan lengkap pembahasannya,” kata Juddin saat ditemui di kantornya, Rabu (2/1).
Ia juga menyampaikan perbedaan lain ketika seseorang membaca buku dan membaca di gawai memiliki tingkat kelelahan yang berbeda. Ketika seseorang membaca suatu artikel di salah satu laman pencarian yang ada di gawainya, mata pembaca akan lebih cepat mengalami kelelahan karena radiasi yang dipancarkan dari gawai tersebut.
“Jadi orang itu akan mudah cape, kalau sudah cape biasanya langsung keluar dari artikel pencariannya,” ujarnya.
Sedangkan ketika membaca buku, ketika seseorang merasa lelah dan belum selesai membaca buku maka halaman yang selesai dibacanya dapat diberikan pembatas. Sehingga ketika ingin melanjutkan bacaannya kembali dapat langsung ditemukan halaman dan artikel yang belum selesai dibacanya.
Ia menuturkan, ilmu yang didapatkan dari membaca buku lebih komprehensif dibandingkan hanya membaca artikel di internet. Seseorang yang sudah terbiasa mencari informasi pada sebuah buku akan merasa kurang ketika hanya sekadar mencari di internet.
“Karena para pembaca yang masih suka buku, dia merasa dengan mencari informasi pada sebuah buku itu lebih lengkap informasi yang dibutuhkan,” jelas Juddin.
Anak-anak saat ini cenderung tidak menyukai buku untuk menggali berbagai informasi, karena kini mereka dengan begitu mudahnya mencari informasi di internet maupun gawainya. Oleh karena itu, diperlukan peran dari berbagai pihak baik orang tua maupun guru untuk menanamkan budaya baca buku bagi anak.
“Sekarang kan gitu, ‘ngapain ke perpustakaan lha di Google juga sudah ada’ pemikiran seperti ini yang harus dihilangkan dan guru maupun orang tua harus menanamkan jiwa literasi pada anak sejak dini,” ungkapnya.
Buku yang dibaca tidak hanya sekadar buku mata pelajaran atau hanya Lembar Kerja Siswa (LKS). Ada beragam buku yang bisa menjadi referensi seseorang untuk mencari informasi yang diinginkan dan bisa ditemukan di perpustakaan.
