BANYUMAS – Warga dan Pemerintah Desa Nusadadi didukung Pemerintah Kecamatan Sumpiuh, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas bakal menggelar Festival Perawan Kondang, Sabtu 22 Desember 2018 mulai pukul 07.00 sampai larut malam. Ajang ini bertujuan untuk mengangkat potensi alam, budaya, kuliner hingga kerajinan kreatif masyarakat setempat.
Kepala Desa Nusadadi, Ngalimin menjelaskan, “Perawan Kondang” sejatinya singkatan dari Pertunjukan Rawa Menawan dan Keroncong Berdendang. Festival ini merupakan cara warga Nusadadi untuk mengangkat potensi yang dimiliki, termasuk alam sekitarnya.
“Salah satu wujud harmonisasi dengan alam itu adalah puncak festival Perawan Kondang yang diisi dengan ritual pakan buaya, atau memberi makan buaya yang menghuni Sungai Ijo dan Gatel. Ini dimulai pagi hari,” kata Ngalimin, Kamis (20/12).
Dia menuturkan, kemunculan buaya itu memang sempat membuat geger masyarakat. Tapi juga justru mendorong mereka mendapatkan pendapatan alternatif, antara lain, dari warung dadakan di area kemunculan buaya, parkir sepeda motor atau mobil, serta karcis masuk untuk melihat buaya di kedua sungai ini.
Meski demikian, pada saat musim penghujan, kemungkinan kecil buaya akan menampakkan diri . Pasalnya, debit sungai sedang tinggi.
Meski sudah lama tak muncul, bagi warga Nusadadi, ritual pakan buaya ini bukan sekadar memberi makan hewan liar. Bagi warga ini adalah wujud harmonisasi dengan tujuan melestarikan alam sekitar.
Menurut Ngalimin hidup dalam lingkungan yang berdampingan dengan buaya tidak dianggap sebagai ancaman. Masyarakat Nusadadi berupaya menciptakan harmonisasi hidup dengan buaya sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.
“Kalau saat ini kemunculan buaya kecil, cuma kami, terlepas dari cara kami mengangkat potensi Desa Nusadadi, ini sebagai bahasa untuk kita, untuk harmonisasi dengan alam sekitar,” Jelasnya.
Camat Sumpiuh, Abdul Kudus, mengatakan, event tersebut tidak hanya menggelar Kirab Pakan Buaya. Warga juga menggelar sejumlah kegiatan, seperti Pasar Daonan yang menyajikan kuliner khas Nusadadi, panggung hiburan keroncong yang berkolaborasi dengan musik rock serta ragam kegiatan lainnya yang menarik.
“Kami dibantu musisi keroncong dan band rock dari Purwokerto. Tapi kami juga tetap menampilkan kesenian lokal seperti Dayakan dan Kentongan,” kata
Menurut dia, Desa Nusadadi bisa dibilang menjadi gudangnya pelaku seni. Di desa ini memiliki grup kentongan, ebeg, aksimuda, hingga seni dayakan. Ada pula ritus “baritan” yang digelar sebagai wujud rasa syukur sebelum memulai musim tanam.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko menambahkan, Desa Nusadadi juga memiliki puluhah perajin welit yang diolah dari daun pohon nipah. Ada pula gula nipah dan beras hitam yang berasal dari padi yang tumbuh di tanah yang berada pada satu meter di bawah permukaan laut ini.
“Potensi produk budaya masyarakat itulah yang kami kemas dalam satu festival. Sekaligus kami ingin mendorong kreativitas masyarakat menciptakan titik perkembangan wisata baru di Banyumas,” ujar Deskart. (*)