JAWA TENGAH AKAN REKRUT 912 ENUMERATOR RISKESDAS

15 February 2018
yandip prov jateng

BOYOLALI – Setelah dilakukan pada tahun 2013, tahun ini Kementerian Kesehatan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) laksanakan program Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Program ini bertujuan mendapatkan gambaran dasar tentang kesehatan masyarakat yang mencakup biomedis dan informasi kesehatan penting lainnya. Data tersebut  diharapkan bisa menggambarkan permasalahan kesehatan pada tingkat kabupaten/ kota, provinsi, hingga nasional. Pelaksanaan Riskesdas 2018 ini membutuhkan tenaga enumerator di setiap wilayah. Seperti halnya di wilayah Jawa Tengah yang akan merekrut 912 orang enumerator riskesdas. Seperti yang disampaikan Kasubbag Perencanaan Pelaporan dan Informasi Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Agus Priyanto di kantornya pada Kamis (15/2).

“Riskesdas ini merupakan penelitian berbasis masyarakat dengan metode sampling yang diintegrasikan dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dari BPS (Badan Pusat Statistik),” terang Agus.

Riset ini lanjut Agus yang juga Penanggungjawab Operasional (PJO) Riskesdas Boyolali ini bertujuan untuk menyediakan informasi derajat kesehatan yang telah dicapai selama kurun waktu lima tahun terakhir dan informasi besaran masalah faktor risiko terkait derajat kesehatan. Hasil riset akan dijadikan bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan kesehatan di Indonesia.

Dalam rekrutmen kali ini pihaknya akan menerima pendaftaran di tingkat Kabupaten. Sementara untuk hasil seleksi ditentukan oleh Panitia di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Boyolali diberi kuota sebanyak 28 orang, namun jika tidak memenuhi kuota tersebut akan disubsidi peserta dari lain daerah yang ditentukan panitia Provinsi.

“Di tingkat Kabupaten tugas kami hanya menerima, mengirimkan pendaftaran dan mengkoordinasi serta memfasilitasi yang berasal dari Boyolali,” imbuhnya.

Tim riskesdas lanjut Agus direncanakan akan bekerja dalam kurun waktu sebulan di lokasi yang disesuaikan data Susenas dengan informasi yang digali meliputi indikator morbiditas, disabilitas, dan status gizi. Dengan mengintegrasi dengan Susenas diharapkan tidak terjadi lagi overlapping pertanyaan.

“Bagi masyarakat yang ingin mendaftar masih dibuka pendaftaran hingga 20 Februari 2018. Para calon pendaftar harus berlatar belakang pendidikan di bidang kesehatan seperti dokter, analis kesehatan, perawat, kesehatan masyarakat dan lain sebagainya,” rinci Agus.

Syarat lain diantaranya berusia maksimal 40 tahun pada 1 April 2018 dan bukan seorang Pegawai Negeri Sipil. Penjelasan dan formulir pendaftaran yang harus dipenuhi dapat diunduh di laman www.boyolali.go.id.

Skip to content