AWAL TAHUN, ‘TREN’ INFLASI MELANDA KUDUS

05 February 2018
yandip prov jateng

KUDUS – Di awal tahun ini, tampaknya inflasi menjadi tren di banyak daerah, termasuk kabupaten Kudus. Bahkan inflasi yang terjadi di lima dari enam kota acuan SBH (Survey Biaya Hidup) di Jawa Tengah melampaui besaran inflasi nasional. Inflasi tertinggi dialami Kota Cilacap (1,33), diikuti Purwokerto (1,29), Tegal (1,15), Kudus (1,00), Kota Semarang (0,81) dan Kota Surakarta (0,55). Sementara di level nasional ‘hanya’ 0,62 persen dan Jawa Tengah di angka 0,88 persen.

Untuk Kabupaten Kudus, angka tersebut lebih tinggi bila dibanding bulan desember tahun lalu (0,60). Menurut keterangan Kepala BPS Kudus, Sapto Harjuli Wahyu, kondisi tersebut terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks beberapa kelompok pengeluaran, antara lain kelompok bahan makanan (3,26), kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,11), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,10), kelompok sandang (0,30), kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,16) dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan (0,81). Hal itu disampaikannya saat menyampaikan perkembangan indeks harga konsumen di hadapan para awak media dan OPD terkait.(2/2)

Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap terjadinya inflasi adalah beras, cabai rawit, bensin, daging ayam ras dan mobil.

Menyoal adanya mobil sebagai komoditas yang punya andil terhadap inflasi di Kudus, dirinya mengaku bahwa hal tersebut memang tidak lazim terjadi. “Tapi itulah kenyataannya. Dari data yang kami kumpulkan, inflasi di Kudus dipengaruhi oleh komoditas tersebut, walaupun tidak pada peringkat pertama,” jelasnya. Untuk beras, dari data yang dimilikinya, merupakan komoditas yang muncul sebagai faktor penyumbang inflasi di semua kota SBH di Jawa Tengah.(KontributorKudus_ErwinDwisusanto)

Skip to content