SEMARANG – UsaiUsai dikeluarka Surat Edaran Gubernur tentang potongan langsung dari gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 2,5 persen, penerimaan zakat pada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Tengah meningkat hampir dua kali lipat. Dengan lonjakan penerimaan itu, Baznas Jateng bertekad meningkatkan kontribusi dalam penurunan kemiskinan di Jateng.
“Yang semula per bulan penerimaannya hanya Rp2,7 miliar, setelah ada surat edaran dari pak Gub kini yang diterima Baznas mencapai Rp4,2 miliar,” kata Ketua Baznas Provinsi Jateng KH Achmad Daroji saat Peluncuran Lapak Pedagang Kuliner Mustahik Binaan Baznas Provinsi Jateng, di Jalan Jolotundo, Kompleks Masjid Agung Jateng (MAJT), Sabtu (4/5/2019).
Ditambahkan, surat edaran tersebut dikeluarkan Ganjar setelah menerima laporan dari Baznas terkait penerimaan serta pemanfaatan zakat sepanjang 2018 silam. Sepanjang 2018, Baznas Jateng menerima saluran zakat dari ASN Jateng sebesar Rp31,7 miliar. Dengan meningkatnya penerimaan, pemanfaatannya pun dilakukan secara modern.
“Pemanfaatan untuk sektor produktif sebesar 40 persen dan sektor tidak produktif sebesar 60 persen. Untuk sektor produktif, alhamdulillah semua bisa untuk produksi, misalnya pinjaman tanpa bunga, Baznas Micro Finance. Sektor tidak produktif kita manfaatkan untuk pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH),” ujarnya.
Baznas Micro Finance, lanjut Daroji, ditujukan pada mereka dengan usaha kecil yang ingin menambah modal. Mereka tidak dilepas begitu saja, tetapi diberi pendampingan. Selanjutnya Baznas melakukan evaluasi.
“Seperti saat ini, ada 16 lapak pedagang kecil kerja sama dengan MAJT. Ini tekad kami untuk ngeroyok mengatasi kemiskinan di Jawa Tengah,” katanya.
Dengan sistem yang diterapkan dalam pengelolaan zakat tersebut, Jateng bahkan dijadikan role model pengumpulan dan pengelolaan zakat secara nasional. Gubernur Jateng mengatakan, pemanfaatan zakat tersebut sangat membantu untuk menyejahterakan masyarakat.
“Baznas sangat berkontribusi penuh dalam penurunan kemiskinan. Baznas adalah solusi. Kita menyelesaikan dengan banyak sumber untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat. APBD sudah pasti, tapi Baznas dan para filantropis punya kekuatan luar biasa,” paparnya.
Namun demikian, kepada para pelapak Ganjar berpesan agar menggunakan dana pemanfaatan zakat tersebut secara benar, tidak main-main. Komunikasi pun diharapkan bisa dilakukan secara intensif, terlebih setelah pedagang menerima lapak, masih ada program lanjutan, yakni pendampingan.
“Ini rangsangan awal yang selanjutnya semoga panjenengan bisa mandiri. Setelah pembangunan lapak ini selanjutnya masih ada program yakni pinjaman tanpa bunga. Tapi dibayar ya,” katanya.
Usai meresmikan lapak tersebut, Ganjar pun langsung keliling ke 16 padagang yang didominasi lapak kuliner. Ada nasi bungkus, ayam penyet, tahu gimbal, nasi pindang, nasi rames, mie topping, soto, gule kambing Bustaman.
“Wah ini ada gulai Bustaman ternyata, enak iki. Dodolan sing nggenah ya (jualan yang sungguh-sungguh ya),” kata Ganjar.
Penulis : Ib, Humas Jateng
Editor : Ul, Diskominfo Jateng
Foto : Humas Jateng

