SEMARANG – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Semarang memperkuat komitmen menghadirkan pangan aman bagi masyarakat melalui program Gerakan Masyarakat Sadar Pangan Aman (Germas Sapa). Program nasional berbasis komunitas itu telah digagas Badan POM sejak 2017, sebagai dukungan terhadap Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Kepala BBPOM di Semarang, Rustyawati menuturkan, Germas Sapa menekankan pendekatan preventif, promotif, dan edukatif, mengajak masyarakat untuk memproduksi, menyediakan, dan mengonsumsi pangan yang bebas dari cemaran fisik, kimia, maupun biologi. Program itu sekaligus menanggapi persoalan klasik keamanan pangan, mulai dari rendahnya pengetahuan pelaku usaha tentang higiene dan sanitasi, penggunaan bahan tambahan pangan melebihi batas, penyalahgunaan bahan berbahaya, hingga masalah pencemaran lingkungan.
Ditambahkan, Germas Sapa di Jawa Tengah dilaksanakan secara terpadu, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Program tersebut merupakan gabungan dari Gerakan Keamanan Pangan Desa/Kelurahan, Pengawasan Pangan Jajanan Anak Sekolah, dan Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas.
“Masing-masing memiliki segmen sasaran berbeda namun berorientasi pada satu tujuan, meningkatkan pola hidup sehat masyarakat dalam mengelola dan mengonsumsi pangan aman,” ujarnya, dalam kegiatan Monev Keterpaduan Keamanan Pangan Tahun 2025, di Balai Bahasa Jawa Tengah, Kamis (20/11/2025).
Dia menambahkan, tahun ini kegiatan intervensi dilakukan di enam desa, satu pasar rakyat, serta 20 sekolah dari berbagai tingkatan pendidikan. Menurutnya, desa, sekolah, dan pasar jadi pilar utama.
Badan POM mendorong kemandirian desa/kelurahan dalam membudayakan praktik keamanan pangan hingga ke tingkat rumah tangga. Dengan kemandirian tersebut, desa diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup, sekaligus perekonomian warganya.
Di sektor pendidikan, program Sapa Sekolah (Sadar Pangan Aman Sekolah) diarahkan untuk membentuk budaya keamanan pangan di lingkungan sekolah. Anak usia sekolah dipastikan mendapatkan pemahaman yang baik terkait pangan aman, sehingga mampu melindungi diri dari pangan yang berisiko membahayakan kesehatan.
“Sementara itu, di pasar rakyat sebagai titik penting masyarakat memperoleh bahan pangan, intervensi difokuskan pada pencegahan penyalahgunaan bahan berbahaya, seperti boraks dan formalin. Kurangnya pengendalian di pasar selama ini, menyebabkan masih ditemukannya pangan berbahaya yang mengancam kesehatan konsumen,” ungkapnya.
Rustyawati menambahkan, keterpaduan keamanan pangan di Jawa Tengah, bertujuan untuk mewujudkan budaya keamanan pangan, melalui peningkatan kemandirian masyarakat, pelaku usaha dan komunitas. Selain itu, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pangan aman, serta menguatkan sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
“Dan satu lagi, untuk meningkatkan kualitas hidup dan perekonomian desa/ kelurahan. Dengan sinergi semua pihak, Germas Sapa diharapkan mampu menjadi gerakan kemandirian masyarakat, dalam memastikan pangan yang aman, sehat, dan bermutu bagi seluruh warga Jawa Tengah,” tandasnya.
Penguatan pangan aman itu juga sejalan dengan komitmen Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang meminta agar pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih diperketat. Hal itu dilakukan guna memastikan keamanan pangan di wilayahnya.
Dalam kesempatan lain, Luthfi menegaskan, keamanan pangan tidak boleh ditawar. Karenanya, seluruh dapur penyedia MBG harus memperketat proses pengolahan, kebersihan, dan pengawasan makanan, supaya kejadian keracunan makanan tidak terulang.
“Harapannya, kejadian-kejadian (keracunan) kemarin tidak terulang kembali, karena ini program struktural, maka harus kita laksanakan,” tegas Luthfi. (Wk/Ul, Diskominfo Jateng)

