Teknologi Informasi Bukan Barang Aneh Lagi

  • 13 Feb
  • bidang ikp
  • No Comments

Semarang – Nawa cita Presiden RI Ir H Joko Widodo untuk membangun Indonesia dari pinggiran bukan sebatas asa yang jauh dari aksi. Nawa cita itu melecut semangat warga bersama para perangkat desanya untuk berlomba-lomba menciptakan berbagai inovasi untuk memajukan desa mereka.

Seperti antusiasme sejumlah pemuda relawan TIK Indonesia di Kabupaten Pemalang yang mengembangkan program Pusat Pemberdayaan Informatika dan Perdesaan (Puspindes) bersama pemerintah setempat selama dua tahun terakhir. Semangat relawan TIK mereformasi desa melalui teknologi informasi kini berhasil mengantarkan program Puspindes Pemalang menjadi salah satu nominator dari 17 Inisiatif TIK Indonesia di dalam Anugerah Internasional WSIS Prize PBB Tahun 2018.

“Inti (gerakan) teman-teman Puspindes  (Pemalang) itu kepedulian untuk perubahan desa. Melalui Sistem Informasi Desa (SID) Sidekem, disampaikan laporan statistik kependudukan, surat menyurat, petak desa, pemerintah dan pemerintahan desa, dan potensi desa. All about desa disampaikan di situ dan 211 desa sudah menerapkan SID ini. Baik itu perangkat desa, ibu-ibu PKK maupun karang taruna terlibat dalam pembangunan desa,” terang relawan TIK Puspindes Pemalang, Erni Sulistiowati saat menjadi salah satu narasumber, pada dialog interaktif Gayeng Bareng Gubernur Jateng bertajuk “Desa Inovatif”, di Studio TVRI, Senin petang (12/2).

Relawan TIK Puspindes Pemalang lainnya, Andi menjelaskan, dia dan kawan-kawan relawan TIK gencar menyampaikan literasi digital kepada perangkat desa dan warganya. Terbukti, saat ini desa-desa di Kabupaten Pemalang kian transparan. Mereka makin terbiasa melaporkan anggaran desanya.

“Kami melatih masyarakat desa, memberikan edukasi bagaimana memanfaatkan teknologi informasi secara bijak dan sehat. Sudah bukan menjadi barang aneh lagi bahwa masyarakat kita sangat melek dengan TIK. Di desa-desa sekarang banyak infografis tentang penggunaan anggaran desa. Relawan TIK ini juga sudah berperan aktif dalam membendung informasi yang tidak benar (hoax),” tambahnya.

Kiprah relawan TIK Puspindes Pemalang tersebut  memeroleh apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP. Sebagai pemandu acara pada dialog interaktif tersebut, Ganjar memuji relawan TIK Puspindes Pemalang yang dinilainya sangat progresif dalam pemberdayaan desa.

“Gayeng bareng Gubernur Jateng kali ini membanggakan. Seperti kata Pak Jokowi, membangun Indonesia dari pinggiran, ada melalui desa. Puspindes Pemalang menurut saya progresif karena selama beberapa tahun terakhir mendorong desa makin transparan, ada infografis-infografis dan komunikasi makin terbuka,” puji orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Selain Puspindes Pemalang, geliat inovasi desa juga dapat dilihat dari semangat kelompok sadar wisata (pokdarwis) mengelola dan memromosikan desa wisatanya. Seperti yang dilakukan oleh Sekretaris Pokdarwis Desa wisata Kandri, Masduki. Pria separuh baya itu menceritakan bahwa Desa Wisata Kandri digagas usai warga setempat melepas lahan sawahnya untuk pembangunan Waduk Jatibarang.

“Dulu kita prihatin karena pertanian kita habis. Kita terkena dampak Waduk Jatibarang. Otomatis yang punya sawah kehilangan lahan. Maka teman-teman punya inisiatif bagaimana beralih dari pertanian ke pariwisata, sehingga terbentuk gagasan desa wisata ini,” terangnya.

Masduki membeberkan, Desa Wisata Kandri menjual konsep edukasi pertanian, di mana siswa PAUD dan TK menjadi sasaran pasar. Mereka bisa belajar bercocok tanam, seperti menanam padi, singkong, hingga membuat kerajinan tangan dari limbah pertanian. Pada 2016 sudah sekitar enam ribu orang berkunjung di tempat itu.

“Kita bikin paket untuk anak-anak, terutama siswa PAUD dan TK jadi sasaran kami. Karena kalau anak-anak datang, maka bapak ibunya ikut datang. Jadi UMKM kami bisa laku. Kita juga sudah menerima tamu dari luar negeri setiap tahun. Besok tanggal 23 Februari ada tamu dari sepuluh negara. Tahun 2016 kita sudah enam ribu pengunjung,” bebernya.

Tak hanya asyiknya belajar bercocok tanam yang membuat pengunjung antusias. Kuliner khas “nasi kethek” yang ditawarkan dengan harga terjangkau, yaitu Rp 10 ribu per porsi, ternyata juga membuat turis asing terkesan.

“Pengunjung bisa makan nasi kethek Rp 10 ribu. Nama nasi kethek itu sebenarnya kita nyadur dari Kisah Ramayana. Waktu Ramayana bendung kali itu kethekan atau bahasa Indonesianya estafet. Isinya nasi, oseng daun pepaya, rempeyek teri, bacem telor lalu dibungkus godhong jati. Londho-londho pada seneng,” ungkapnya.

Gubernur Ganjar Pranowo mengaku senang makin banyak desa yang inovatif di Jawa Tengah. Baik dalam menerapkan teknologi informasi maupun mengelola potensi desanya.

“Makin banyak desa yang inovatif dalam mengembangkan diri setelah tiga tahun dana desa digelontorkan. Ketika terdampak dari suatu pekerjaan, ternyata masyarakat Indonesia itu bisa berinovasi untuk beralih dari pertanian kemudian pariwisata. Ini cerita Pak Masduki tentang Desa Wisata Kandri di Gunungpati. Silahkan ke sana,” ujarnya sambil memromosikan.

 

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn

Berita Terkait