Pertengahan 2017, Tren Kasus Kematian Ibu Turun

  • 08 Aug
  • Prov Jateng
  • No Comments

Semarang – Pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah pada semester pertama 2017 menunjukkan evaluasi positif. Dari 50 indikator kesehatan yang tercantum di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jawa Tengah 2013-2018, terdapat 49 indikator kesehatan yang berhasil dicapai.

“Capaian kinerja pembangunan kesehatan Jawa Tengah tahun 2017, dari jumlah 50 indikator yang ada di RPJMD, sampai setengah tahun ini ¬†tercapai target 49 indikator. Sedangkan masih ada satu indikator yang masih perlu didorong yaitu penemuan kasus baru TB CNR,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yulianto Prabowo MKes dalam acara Evaluasi Tengah Tahun Pembangunan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2017 di Wisma Perdamaian, Selasa (8/8).

Yulianto membeberkan beberapa capaian positif di bidang kesehatan adalah tren penurunan kasus kematian ibu di Jawa Tengah. Pada 2014, terdapat 711 kasus kematian ibu. Jumlah tersebut berkurang menjadi 619 kasus kematian ibu pada  2015 dan 602 kasus kematian ibu pada 2016.

“Terakhir, hingga 30 Juni 2017, tercatat ada 215 kasus kematian ibu di Jawa Tengah,” jelasnya.

Yulianto menambahkan selain tren penurunan kasus kematian ibu, angka kesakitan malaria Jateng juga menurun selama dua tahun terakhir. Pada 2015, angka kesakitan malaria sebesar 0,06 kemudian berkurang menjadi 0,03 pada 2016. Pada semester pertama, angka kesakitan malaria berkurang menjadi 0,011.

Usia harapan hidup masyarakat di Jateng menunjukkan peningkatan selama empat tahun terakhir. Pada 2013, usia harapan hidup Jateng sebesar 72,6 meningkat menjadi 73,46 pada 2014. Usia harapan hidup Jateng kembali meningkat pada 2015 yakni 73,6 dan menjadi 74,02 pada 2016.

Dikatakan, pihaknya juga menargetkan hingga akhir tahun ini, tujuh daerah bisa mendeklarasikan bebas buang air besar sembarangan atau Open Defecation Free (ODF). Tahun lalu deklarasi ODF baru dilakukan satu kabupaten yaitu Kabupaten Grobogan.

“Tahun ini, sampai akhir Desember nanti, harapan kita bisa mendeklarasikan tujuh kabupaten ODF. Yaitu Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Surakarta, Boyolali, Klaten, dan Semarang. Di samping itu, upaya pemanfaatan jamban juga meningkat terus. Sampai tengah 2017 hampir 80 persen penduduk kita sudah mengakses jamban,” bebernya.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP mengapresiasi keberhasilan para pemangku kepentingan di bidang kesehatan, baik di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi yang mampu meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Dia berpesan agar mereka terus gencar menyosialisasikan program kesehatan pemerintah. Seperti program KB, program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng, dan ODF. Agar pesan dapat diingat secara baik oleh masyarakat, kampanye kesehatan hendaknya dilakukan dengan cara menyenangkan dan bahasa yang mudah dipahami.

“Sosialisasi KB itu kita tidak menunggu seremoni. Begitu ada gerombolan masyarakat, ada ibu-ibu gendong anak, saya langsung tanya anak keberapa, sudah KB atau belum, KB-nya apa. Candaan itu pasti akan terngiang. Spontan tapi akan diingat,” tandasnya.

 

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

 

Berita Terkait