Pers Harus Saring, Sharing, Pilah dan Pilih Berita

  • 17 May
  • Prov Jateng
  • No Comments

Semarang – Jurnalisme damai dan menyejukkan penting untuk terus dihembuskan dan diaktualisasikan dalam kehidupan pers. Sehingga mampu menginspirasi masyarakat dalam membangun budaya yang tidak menghentak, provokatif, ataupun pemicu pertikaian antarsesama.

“Saya minta kepada rekan-rekan pers ¬†untuk saring, sharing, pilah dan pilih itu betul-betul harus dilakukan. Buatlah iklim yang kondusif di Jateng. Boleh beda pendapat tapi jangan sampai terjadi chaos, jangan ada perpecahan. Negara ini bersatu mahal harganya tidak hanya harta tetapi juga nyawa. Kita jangan orak-arik kedamaian yang dirintis para pendahulu,” tegas Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Dr Ir Sri Puryono KS MP mewakili Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MSi, di sela pembacaan sambutan Sarasehan “Jurnalisme Damai”, di lantai dasar Gedung Gubernur Jateng, Selasa (16/5) malam.

Sarasehan yang diselenggarakan Forum Wartawan Pemerintah Provinsi dan DPRD Jawa Tengah (FWPJT), dalam rangka memperingati ulang tahun forum wartawan yang berdiri pada 15 Mei 1998. Hadir dalam acara bertema “Jurnalisme Damai” tersebut, Sekda Provinsi Jateng Dr Ir Sri Puryono KS MP, Ketua DPRD Drs Rukma Setyabudi MM, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Bupati Kudus Mustofa, Ketua FWPJT Damar Sinuko, budayawan Pri GS, sejumlah kepala SKPD, serta para wartawan, dan tokoh seniman.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekda Jateng menjelaskan, pena insan pers digunakan untuk mempertajam peranannya dalam membentuk opini publik yang cerdas dan proporsional, sebagai penghimpun, penyampai informasi, serta kontrol sosial. Termasuk dalam memperkuat jurnalisme damai dan menyejukkan.

Hal tersebut perlu dilakukan mengingat saat marak pemberitaan dan informasi menyesatkan, menghasut, menebar kebencian, provokatif di media sosial. Hoax betul-betul meresahkan karena berpotensi memecah belah kerukunan dan persatuan bangsa. Apalagi akhir-akhir ini bangsa Indonesia sedang menghadapi ujian atas kemajemukan. Ada intoleransi dan terjadi polarisasi atas identitas kelompok yang semakin tajam, menimbulkan ketegangan, dan rawan konflik.

“Integrasi nasional kita betul-betul terancam kalau kondisi tersebut dibiarkan. Kondisi tersebut menjadi semacam tantangan yang akan mendewasakan demokrasi kita. Tetapi bagi saya, kondisi ini bukan sesuatu yang bukan biasa saja karena sudah mengancam persatuan kesatuan dan kerukunan dalam kebhinnekaan bangsa. Harus ada effort luar biasa untuk mengatasinya,” bebernya.

Dalam sambutannya, gubernur mengajak semua bersama-sama mendorong para elit bangsa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat ikut menyejukkan suasana. Singkirkan dan hilangkan kepentingan identitas kelompok untuk satu kepentingan lebih besar, yaitu bangsa dan negara. Termasuk pers harus mengambil peran untuk menciptakan suasana yang sejuk dan damai.

Gubernur berharap  insan media mengedepankan jurnalisme damai, pers yang mampu menjaga dan meneguhkan kerukunan, perdamaian dan menguatkan nilai-nilai toleransi antarkomponen masyarakat. Media arus utama (mainstream) agar bisa meluruskan yang bengkok-bengkok sebagai bentuk perlawanan terhadap hoax.

“Pers lewat tulisannya bisa sangat mempertajam konflik ketika pemberitaan yang disajikan sarat dengan muatan yang ten-densius, provokatif, dan sensasional. Tetapi pada sisi lain, pers juga bisa jadi kekuatan ampuh untuk ikut meredam ketegangan atau bahkan konflik.

Ia menambahkan, ketelitian, keakuratan data, dan ketepatan pemilihan narasumber, sebelum ditayangkan tetap harus diperhatikan, agar tidak menjadi berita hoax yang memecah-belah. Selain itu, pemilihan bahasa pada penyampaian berita harus jauh dari kekerasan yang bersifat mengadu domba dan menjelekkan orang atau kelompok lain.

Senada diungkapkan Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi, melalui tulisan dan opini di media massa diharapkan masyarakat bisa mendapatkan edukasi tentang beragam permasalahan. Artinya tulisan atau berita akan dibentuk seperti apa itu tergantung penulis atau wartawannya.

“Kekuatan yang luar biasa ini kita jadikan betul-betul untuk jurnalisme damai atau sesuatu yang baik bagi masyarakat Jateng. Kita harapkan Jateng tetap damai, tenang, sejuk, tidak ada pertikaian, hujatan, dan kebencian. Semua bersatu untuk keutuhan Indonesia,” pintanya.

Rukma menilai, Pilkada DKI itu merupakan contoh sempurna sebuah kejelekan luar biasa terkait informasi yang beredar di masyarakat. Terkait pilkada Jateng yang semakin dekat, ia berharap jangan sampai kondisi serupa terjadi di Jateng. Dalam hal ini, peran wartawan sangat penting untuk memberikan pencerahan dan edukasi terhadap masyarakat. Jangan mudah terseret politik yang terlalu ekstrem kanan maupun kiri. Semua harus tetap di tengah berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 45, merawat Bhineka Tunggal lka dan NKRI.

Sementara itu Ketua FWPJT Damar Sinuko mengatakan, sarasehan bertajuk Jurnalisme Damai untuk Jateng karena maraknya berita-berita hoax di masyarahat. Para insan pers berharap semua kompak menyaring beragam pemberitaan yang beredar di masyarakat.

“Kami yang bertugas di lingkungan Pemprov dan DPRD Jateng, mempunyai slogan saring sebelum sharing. Artinya informasi yang diperoleh sebelum dipublikasikan kita konfirmasi dahulu ke pihak-pihak yang bersangkutan agar berita menjadi akurat dan tidak hoax,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, FWPJT juga menyerahkan kenang-kenangan kepada pejabat dan tokoh masyarakat antara lain Gubernur Ganjar Pranowo yang diwakili Sekda Provinsi Jawa Tengah, Ketua DPRD Rukma Setyabudi, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Bupati Kudus Mustofa, budayawan Pri GS, serta Benk Mintosih.

 

Penulis : Mn, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

 

Berita Terkait