Kenakan Kain “Warak Ngendog”, Ganjar Meriahkan Kirab Kalisegoro

  • 20 Aug
  • Prov Jateng
  • No Comments

Semarang – Pemandangan berbeda terlihat di sepanjang jalan utama Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (19/8) sore. Ribuan warga menyemut dan berdesakan di pinggir jalan umtuk menyaksikan Kirab Merti Bumi Kampung Ampel Gading.

Ratusan peserta kirab tahunan tersebut terdiri atas berbagai barisan dengan tema kostum beragam. Seperti busana adat dari beberapa penjuru nusantara, ibu-ibu PKK berpenampilan ala putri bunga lengkap dengan selempang bertuliskan “Miss Anggrek“, serta barisan remaja putri mengenakan busana berbahan batik dan kantong plastik dengan desain unik layaknya peserta batik¬†carnival.

Suasana semakin semarak oleh genderang tabuhan drumband berpadu dengan gerakan rancak dan kompak taruna-taruni Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) Semarang. Para calon pelaut andal itu, seolah tak mengenal lelah meski sepanjang jalan menunjukkan kebolehannya beratraksi dan bermain drumband.

Tidak ketinggalan pula pasukan prajurit keraton membawa tombak berjalan tegap mengawal dua gunungan berisi aneka hasil bumi masyarakat Kalisegoro, dan iring-iringan kereta kuda berpenumpang Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, Forkopimda, serta perangkat desa setempat.

Menjadi peserta kirab sedekah bumi tersebut, penampilan gubernur pun tampak beda. Orang nomor satu di Jateng itu mengenakan baju hitam adat Semarangan dipadu bawahan balutan kain batik berwarna merah hitam bermotif warak ngendok khas Kota Semarang. Tampak serasi dengan secarik kain sebagai ikat kepala.

“Ini merupakan pagelaran budaya yang sangat menarik. Meskipun kelasnya kampung atau dusun tetapi bisa menggerakkan ikatan masyarakat yang sangat kuat dan menumbuhkan gotong-royong,” ujar gubernur di sela-sela kirab.

Kirab budaya yang digelar setiap bulan apit dalam penanggalan Jawa kuno ini, menurut Ganjar sangat menarik dan setiap tahun selalu berlangsung meriah. Tidak hanya warga Kalisegoro, masyarakat dari desa sekitar juga turut terlibat untuk memeriahkan tradisi tahunan tersebut.

Menurut Ganjar, pertunjukan seni budaya di Republik Indonesia pasti menarik, baik kebudayaan nasional, provinsi, hingga kabupaten. Bahkan kelas desa seperti di Kalisegoro tidak kalah menarik, karena semua kesenian yang ditampilkan unik. Apalagi saat nuansa memperingati Hari Kemerdekaan seperti sekarang.

“Tradisi ini bagus dan menunjukkan bahwa kita mempunyai kepribadian dalam kebudayaan, kemudian mereka menampilkan kemeriahan untuk 17-an. Saya berharap setiap kampung ramai seperti ini karena suasana kegiatan 17 Agustus menjadi sesuatu yang ditunggu masyarakat,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut, mantan anggota DPR RI itu mengapresiasi partisipasi masyarakat yang luar biasa, baik materi maupun lainnya. Warga dan pemerintah iuran untuk terselenggarannya acara yang selalu meriah dan menarik banyak orang untuk menyaksikan.

“Yang namanya pitulasan identik dengan keramaian, pertunjukan seni budaya, identik dengan membersihkan lingkungan. Saya nitip kerukunan dijaga, Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika kita jaga. Karena itulah yang akan persatukan kita,” imbuhnya.

Sementara itu, Lurah Kalisegoro Sabar Tri Mulyono menjelaskan kirab budaya ini merupakan tradisi turun temurun yang bertujuan nguri-nguri budaya asli daerah. Beragam hasil bumi yang diarak dalam bentuk gunungan sebagai simbol rasa syukur warga atas rezeki, kesuburan, dan hasil pertanian di Kalisegoro yang melimpah.

“Ini agenda setiap tahun, istilahnya sedekah bumi. Gunungan berisi sayuran dan buah-buahan yang diarak tadi selanjutnya diperebutkan warga,” terangnya.

 

Penulis : Mn, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Foto : Humas Jateng

Berita Terkait