Keluarga Kunci Keberhasilan Pendidikan

  • 13 Feb
  • bidang ikp
  • No Comments

Semarang – Beberapa aksi anarkis yang dilakukan oleh oknum pelajar di Tanah Air mengemuka di media massa beberapa waktu terakhir. Seperti pembunuhan pengemudi taksi online yang dilakukan oleh dua pelajar SMK di Kota Semarang hingga pemukulan terhadap guru seni oleh salah seorang siswa SMA di Kabupaten Sampang yang mengakibatkan sang guru meninggal, membuat banyak pihak prihatin. Tidak terkecuali Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP.

Mantan anggota DPR RI itu berpendapat, ancaman terhadap generasi muda saat ini begitu luar biasa. Tidak hanya dari lingkungan nyata di sekitarnya, ancaman yang ada di media sosial pun mengintai mereka setiap saat. Seperti ancaman narkoba, pergaulan bebas, hingga radikalisme.

“Kalau generasi muda atau anak zaman now itu gempurannya lebih keras. Tidak hanya dari dunia riil, tetapi juga dari ‘dunia lain’, ya (gempuran) medsos itu. Media sosial bisa menggempur dengan segala isme. Ada ancaman pengaruh narkoba, pergaulan bebas, radikalisme. Maka karakter mesti dibentuk karena gempuran terhadap mereka luar biasa,” terangnya saat menjadi narasumber dialog Mas Ganjar Menyapa bertajuk “Selamatkan Generasi Penerus” di Rumah Dinas Gubernur (Puri Gedeh), Selasa (13/2).

Orang nomor satu di Jawa Tengah itu menegaskan, kewajiban untuk menanamkan pendidikan karakter di dalam diri kaum muda bukan semata tanggung jawab guru. Orang tua harus memberikan perhatian, memeluk, dan mendidik putera-puterinya dengan penuh kasih sayang serta menginternalisasikan norma-norma sosial yang dijunjung oleh masyarakat.

“Perhatian orang tua itu super penting. Nilai-nilai sosial masyarakat yang ada perlu diketahui, diinternalisasi, dipahami dan dilakukan (oleh anak). Ketika karakter terbentuk dengan baik, dia akan punya tameng untuk tidak melakukan (kenakalan/ kejahatan). Proses mereka menuju dewasa inilah yang rawan. Karena rawan, intervensi harus dilakukan, baik oleh guru maupun orang tua,” tegas Ganjar.

Alumnus UGM itu menuturkan, kultur bagaimana santri sangat menghormati kiai dan nyai dapat dijadikan contoh. Alih-alih berperilaku tidak sopan, santri justru dibudayakan untuk mencium tangan sang kiai saat bertemu.

“Kultur menurut saya juga berpengaruh. Santri itu nggak berani lihat wajah kiainya. Mereka jalan itu menunduk. Mereka cium tangan kiainya. Itu menunjukkan bahwa mereka punya kultur yang sangat menghormati,” contohnya.

Ganjar mengungkapkan, orang tua percaya jika guru mampu mendidik putera-puterinya menjadi pribadi yang disiplin. Ganjar pun menceritakan pengalamannya ketika duduk di bangku sekolah, di mana saat itu guru akan menegur siswanya jika kuku mereka kotor dan dibiarkan panjang.

“Orang tua itu menitipkan putra-putrinya ke sekolah karena percaya gurunya baik. Saya pernah wadhul ke Bapak saya, itu saya malah diseneni. Kowe mesti ora nggarap PR, tekamu telat. Disiplin yang dibangun itu yang dipercaya (oleh orang tua),” ceritanya.

Ganjar membeberkan, beberapa waktu terakhir pihaknya sengaja menjadi inspektur upacara di sejumlah SMA/ SMK di Kota Semarang untuk memperkuat kesadaran tentang arti penting pendidikan karakter di kalangan pelajar. Termasuk, mengetahui maunya para siswa.

“Kesimpulan saya, sementara anak-anak masih dalam track yang benar. Guru masih dalam track yang benar. Tetapi kasus bisa saja terjadi. Misalnya siswa tantang gurunya ngajak duel, bahkan ada yang mukuli gurunya sampai meninggal. Itu kita telusuri,” jelasnya.

Gubernur menambahkan, ketika ada pelajar yang terjerat pidana hukum, dia meminta pihak sekolah agar mengupayakan siswa tersebut bisa tetap menuntut ilmu, meskipun di balik jeruji penjara.

“Mereka hari ini melakukan tindak pidana, usianya masih sekolah, masuk penjara. Apa harus dipecat dari sekolah dan masa depan mereka habis? Atau kita rescue, kita tolong dia? Maka saya minta kepala sekolah dan guru BK-nya tengok anak itu. Kerja sama dengan kejaksaan dan kepolisian agar anak itu bisa bersekolah di dalam tahanan. Karena kalau tidak, jangan-jangan anak itu akan lebih parah di penjara dan keluar lebih jahat,” tambahnya.

Senada dengan Ganjar, salah seorang penelepon asal Kota Semarang, Zubaidi Ahmad memandang, pendidikan karakter yang disampaikan oleh orang tua sangatlah penting. Orang tua harus mampu terapkan prinsip Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani kepada putera-puterinya.

“Keberhasilan pendidikan itu kuncinya ada pada keluarga. Bapak ibu mesti bisa Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Orang tua harus bisa memberi contoh yang baik, memotivasi anak, dan Tut Wuri Handayani artinya orang tua harus berani ‘tapa’ atau prihatin dengan melakukan puasa Senin-Kamis, salat tahajud dan ibadah lainnya. Tanpa itu semua, saya kira sulit bagi kita untuk mendidik karakter anak sebaik-baiknya,” ujarnya.

 

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

 

Berita Terkait