Gunakan Kartu Tani (Masih) Bisa Tanpa Deposit

  • 14 Jul
  • Prov Jateng
  • No Comments

Temanggung – Pembelian pupuk bersubsidi dari sistem cash and carry ke cashless menggunakan kartu tani diakui masih membutuhkan waktu dalam penerapannya, mengingat belum semua petani mengerti penggunaannya. Karenanya, sosialisasi penggunaan kartu tani terus diintensifkan.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP tak menampik jika dalam kesempatan berdialog dengan petani, masih ada yang menanyakan cara penggunaan kartu tani.

“Ketika dulu dari tulisan tangan, untuk pindah ke elektronik semua orang kesulitan. Tapi hari ini surat tulisan tangan sudah tidak ada. Maka lompatan menuju ke sana (sistem informasi pertanian) memang perlu waktu,” kata Gubernur dalam Pembukaan Soropadan Agro Expo (SAE) VIII dan penandatanganan MoU Integrasi Sistem Kartu Tani dengan Aplikasi e-petani di Pusat Pelayanan Agribisnis Petani (PPAP) Soropadan, Kamis (14/7).

Ditambahkan, untuk memudahkan petani yang belum dapat menggunakan kartu tani, petani cukup menyerahkan kartunya kepada pengecer pupuk. Selanjutnya, pengecer membantu melakukan transaksi.

“Dulu kita minta petani mengakses sendiri-sendiri kangelan. Kelasnya belum sampai. Maka kita ngalah sedikit. Maka yang perlu di-training hari ini juga pengecernya. Pokoknya nek wong teko nembung aku butuh rong zak, njenengan kasih. Kartu ditempelke, sing mijet sampeyan,” jelas dia.

Bagi petani yang masih beralasan menggunakan kartu tani sulit karena harus deposit ke bank, jelas Ganjar, BRI memperkenankan petani membayar secara tunai. Sehingga, pemerintah memberi keleluasaan bagi petani yang sudah siap maupun belum siap, menggunakan kartu tani.

Ganjar pun menegaskan bahwa keberadaan kartu tani yang terpenting adalah data di dalamnya. Data itu antara lain meliputi nama petani, kelompok tani, luas lahan, dan komoditas yang ditanam. Dari data di kartu tani tersebut, ternyata menghasilkan turunan yang sangat banyak.

“Ternyata turunan dari basis data ini luar biasa karena diatasnya bisa ditumpuki aplikasi macam-macam. Antara lain aplikasi petani dan petani Jateng. Orang bisa tanya masalah hama, benih, hasil pertanian, menjual ke mana, dan kadang-kadang sampai konflik antar kelompok tani. Semua ngomong secara virtual,” urai mantan anggota DPR RI ini.

Di samping itu, kartu tani kini bahkan sudah terintegrasi dengan aplikasi berbasis web alamat regopantes.com yang dikembangkan oleh 8 villages. Integrasi ini akan membantu petani memangkas rantai distribusi yang sebelummya sangat panjang, dan mendapatkan harga yang pantas.

“Jadi dari kartu tani dan turunannya itu, ada fungsi informasi, edukasi dan transaksi yang menjadi satu,” ujar dia.

Dengan adanya regopantes.com, alumnus UGM ini berharap bisa memberi pengetahuan petani di sisi off farm. Sisi off farm menjadi perhatiannya mengingat selama ini petani hanya sibuk pada sisi on farm.

Niki sinaune kathah sanget. Amargi rencang-rencang petani niki biasane macul, ngluku, nandur, ngobati, sak menika kudu ajar sithik. Niku mlebet dhateng grumbul on farm sakniki digeret dhateng grumbul off farm, pascapanen. Angel? Nggih. Isih anyar kok,” ¬†beber gubernur.

Penyelenggaraan SAE VIII pada 14 – 17 Juli 2017, tutur Ganjar, sebenarnya merupakan ajang pamer berbagai hasil pertanian unggulan, mulai dari prosesnya hingga pemasarannya. Sehingga petani bisa melihat contoh keberhasilannya secara nyata.

“Maka area ini sebenarnya area pertunjukan untuk menonton. Silakan dilihat. Ini prosesnya, hasilnya seperti ini. Cocok apa nggak. Bagus atau tidak. Pada prosesnya mereka selalu punya masalah. Bibitnya bagus atau tidak, obat-obatannya saya akses gampang atau tidak, mahal atau tidak. Pupuknya terdistribusi dengan baik nggak,” urainya.

Melalui SAE, petani bisa belajar baik dari sisi on farm hingga off farm pertanian. Karenanya, ke depan Ganjar menginginkan SAE betul-betul menjadi tempat learning center pertanian dalam arti luas bagi para petani khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Pelajaran yang diberikan terbagi menjadi dua tahap. Yakni teknik pertanian/ peternakan/ perikanan dan pemasaran.

“Kalau bisa dipakai learning center, harapan kita on farm-nya dia belajar dengan kualitas tinggi. Off farm-nya harapan kita ada pelatihan-pelatihan seperti bagaimana pengemasan yang baik dan cara menjual yang benar,” ucapnya.

Lebih detil Gubernur menjelaskan tahapan yang dipelajari dari awal sampai purna jual. Mulai proses pembibitan, penerapan teknologi yang tepat, pelatihan pengemasan, hingga cara penjualan secara online.

Dalam SAE VIII tersebut, ratusan produk pertanian, peternakan, perikanan, teknologi tepat guna hingga beragam ilmu pertanian dalam arti luas dipamerkan. Seperti bibit buah berkualitas, teknologi menanam sayur hidroponik, persilangan peternakan unggas, dan sapi serta kambing kualitas super.

Soropadan Agro Expo sudah sejak 16 tahun lalu dikenal masyarakat sebagai tempat promosi dan pemasaran produk-produk pertanian unggulan Jawa Tengah. Maka tak heran jika pada hari pertama pembukaannya sudah dikunjungi ribuan orang.

 

Penulis : Rt, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

 

Berita Terkait