Diajak Berbahasa Jawa, Siswa SMK Mati Gaya

  • 03 Aug
  • Prov Jateng
  • No Comments

Boyolali – “Ayo sapa sing wani maju nang ngarep nyampekke pengarepan peringatan dina kemerdekaan ping 72 tahun Republik Indonesia, tapi nganggo Bahasa Jawa, bahasa krama ngoko“.

Permintaan tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP saat dialog dengan siswa dalam program “Gubernur Mengajar” di SMKN 1 Selo, Kabupaten Boyolali, Kamis (3/8).

Sepanjang perbincangan dengan ratusan siswa perwakilan SMK negeri dan swasta se-Boyolali serta para orang tua murid, gubernur bertutur menggunakan bahasa Jawa krama. Mendapat tantangan dari orang nomor satu di Jateng tersebut, beberapa siswa maju dengan penuh percaya diri.

Kendati dari awal didaulat maju dan bertutur menggunakan bahasa daerah, namun hampir semua menyampaikan mimpi atau harapan-harapan positif pada Hari Kemerdekaan ke-72 tahun RI, dengan bahasa Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang gugup dan mati gaya karena tidak bisa berbahasa krama.

Nganggo bahasa jawa ngoko ora papa. Anggep wae kowe ngomong karo kancamu. Ora usah krama inggil, malah pada bingung. Amarga dina iki Kamis, dadi nganggo Bahasa Jawa. Nek dewe sing ora nguri-nguri budayane dewe terus sapa sing meh nguri-nguri,” beber Ganjar.

Menurut gubernur, berdialog dengan para siswa tersebut sebagai upaya melestarikan budaya asli Jateng, mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam budaya, sekaligus melaksanakan Peraturan Gubernur (Pergub) Jateng Nomor 55 Tahun 2014. Pergub itu merupakan aturan perubahan atas Pergub Nomor 57 Tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2013 tentang Bahasa Sastra dan Aksara Jawa.

“Harapan saya pada kemerdekaan ke-72 RI ¬†adalah teknologi semakin maju. Duh, maaf pak saya tidak begitu paham Bahasa Jawa,” ujar Devina, siswi SMK 1 Banyudono disambut gelak tawa siswa lainnya.

Setelah beberapa kali diperingatkan oleh gubernur untuk menggunakan bahasa Jawa, siswa kelas XII jurusan administrasi perkantoran tersebut mampu menyampaikan dengan kalimat Bahasa Jawa secara lancar dan benar.

Kanca-kanca, aku pingin mugi-mugi Indonesia tambah maju, ngadohi narkoba, nyedhaki prestasi,” ujar Devina diiringi riuh tepuk tangan para peserta “Gubernur Mengajar”.

Selain Devina, Arif dan Haris siswa SMK Karya Nugraha Boyolali juga mengaku tidak biasa berbahasa Jawa. Sehingga saat mengutarakan kalimat Bahasa Jawa, mereka justru kebingungan sendiri dan tidak lancar menyampaikan di depan umum.

Dalam kesempatan tersebut tidak hanya membahas tentang upaya Pemprov Jateng melestarikan bahasa daerah, melainkan juga memberikan solusi atas berbagai persoalan para siswa dan orang tua murid. Antara lain menyangkut kebijakan lima hari sekolah, cara memperoleh beasiswa dari pemerintah, fasilitas sekolah, dan lainnya.

 

Penulis : Mn, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Berita Terkait