Baznas Jateng Latih Puluhan Kader PKK dan Masyarakat, Atikoh : Semoga Mereka Nanti Bisa Jadi Pembayar Zakat

  • 05 Aug
  • bidang ikp
  • No Comments

BANJARNEGARA – Sebanyak 80 orang kader PKK dan masyarakat se-Ekskaresidenan Banyumas, mengikuti Pelatihan Peningkatan Kualitas Produk Kerajinan Bambu, di BLK Klampok, Banjarnegara, Jumat (5/8/2022). Kegiatan itu diselenggarakan Baznas Jateng, bekerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi dan TP PKK Jateng.
Ketua Baznas Jateng KH Ahmad Darodji menyampaikan, pelatihan yang diselenggarakan 5-7 Agustus 2022 itu diikuti 80 orang dari empat wilayah, yakni Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap. Melalui pelatihan tersebut, diharapkan peserta memiliki keterampilan membuat berbagai kerajinan dari bambu.
Diharapkan, keterampilan itu menjadi bekal para penerima manfaat, untuk bisa menambah penghasilan, dan menyejahterakan mereka. Pada akhirnya, kemiskinan di provinsi ini pun berkurang.  Terlebih, pihaknya juga memberi bantuan alat mesin serut bambu, satu alat untuk 10 orang.
“Ini sesuai arahan Bapak Gubernur, kemiskinan di Jateng yuk kita keroyok bareng-bareng. Kami pun mengalihkan dana Baznas untuk kegiatan produktif, seperti pelatihan ini, sehingga yang dilatih bisa cari duit, dandan rumah, memperbaiki kehidupannya,” beber Darodji.
Dia mengungkapkan, hingga kini sudah 9.000 orang yang mendapat pelatihan dari Baznas. Ada pula 5.000 orang yang mendapat bantuan modal atau peralatan. Jika satu orang diasumsikan menghidupi empat orang, kata Darodji, artinya sudah lebih dari 50.000 orang terbantu.
“Tapi saya pesan untuk yang dilatih ini, ikuti dengan sungguh-sungguh, aja ngantuk. Berdoa agar diparingi rizki banyak, halal, dan barokah. Besok kalau ada pelanggan atau pembeli, layani dengan senyuman, yang ramah jangan marah. Jadi barang harus berkualitas, ramah, cepat, bersih, murah. Manfaatkan penjualan online,” jelasnya.
Ketua TP PKK Jateng Atikoh Ganjar Pranowo menambahkan, kegiatan pelatihan tersebut sebagai upaya bersama, untuk menanggulangi kemiskinan, mengingat selama pandemi Covid-19, banyak pekerjaan rumah (PR) terkait pemberantasan kemiskinan.
“Alhamdulillah, Baznas selalu men-support, terutama untuk sektor-sektor produktif. Karena harapannya zakat tidak hanya untuk konsumtif, tapi bisa masuk ke ranah produktif. Bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat penerima. Harapannya, nanti mereka menjadi pembayar zakat, minimal bersedekah, atau minimal bisa mandiri,” ujarnya.
Pemilihan kerajinan bambu sebagai bahan pelatihan, menurut Atikoh, sudah tepat mengingat potensi pengolahan bambu di Banyumas Raya masih terbuka. Baik dari ketersediaan bahan baku maupun pemasaran.
Namun, dia menekankan pentingnya pembenahan kualitas produk, serta konsistensi. Selain itu, diversifikasi produk juga penting, misalnya, yang semula mereka hanya membuat besek, nanti bisa merambah produk lainnya seperti tempat buah, wadah hantaran, dan sebagainya. Apalagi, permintaan masyarakat dan hotel akan produk bambu yang lebih ramah lingkungan, semakin tinggi.
“Harus terus diperhatikan sustainability-nya, bisa terjaga dari bahan bakunya itu. Dan tadi juga diberi peralatan, untuk meningkatkan produktivitas. Dengan adanya alat, yang biasanya (produksi) membutuhkan waktu karena (dibuat) secara manual, ini akan sangat terbantu, mengurangi waktu, sehingga efisiensinya lebih terwujud. Kalau efisiensinya terwujud, bisa meningkatkan taraf hidup, karena misalnya semula sehari cuma bisa 10 buah, ini bisa meningkat jd 30 atau 50 buah, dan hasilnya lebih bagus secara kualitas, karena tentu lebih presisi, ukuran¬† lebih jelas. Kalau manual ada tebal tipis,” sorot Atikoh.
Tak hanya itu, dia menekankan peserta pelatihan agar mempelajari teknik pemasaran digital. Mulai dari bagaimana memotret produk, mempromosikan, hingga menembus pasar e-commerce. Sebab, saat ini pengguna e-commerce semakin banyak, terutama warga perkotaan.
Sementara, peserta pelatihan dari Banyumas, Sumistur menyambut baik diadakannya pelatihan tersebut. Dia berharap, usaha kerajinan bambu yang tengah dirintisnya, dapat semakin berkembang, dengan produk yang makin beragam.
“Kalau sekarang saya hanya bikin tempat tisu dan tampah, ke depan, semoga semakin berkembang. Termasuk, pemasaran yang masih jadi kendala kami. Semoga pelatihan ini bermanfaat,” tandasnya. (Ul, Diskominfo Jateng)

Berita Terkait