Pandemi, Perajin Batik Juwana Rambah Pemasaran Daring

  • 11 Sep
  • bidang ikp
  • No Comments

PATI – Di masa pandemi Covid-19 ini, pasar batik di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, terus melakukan inovasi supaya produktivitas tetap bisa berlanjut. Di antaranya dengan merambah ruang pemasaran melalui dalam jaringan (daring) atau melalui pasar digital.

 

 

Mereka menawarkan produknya melalui media sosial, dan toko daring. Termasuk juga, mereka memanfaatkan webinar dan sejenisnya, untuk melebarkan pasarnya supaya lebih baik. Tak heran jika hal itu terus dilakukan sebagai salah satu bentuk inovasi pemasaran di tengah kondisi sekarang.

 

Perajin batik Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Pati, Tamzis Al Anas, mengatakan, dampak pandemi luar biasa bagi usaha batiknya. Sejumlah aturan pembatasan membuatnya tak bisa mengakses ke mana-mana.

 

“Sampai lima persen kita jalan. Jadi 95 persen itu turun. Tapi kita tetap positive thingking. Di saat kita lock down di rumah, kita membangun komunikasi lewat online,” kata Tamzis ditemui di tempat produksi batiknya.

 

 

Menurutnya, dari jaringan online itu ada beberapa hal yang dimanfaatkannya, seperti webinar, Zoom, Google Met, dan lainnya. Pengusaha Yuliati Warno Batik ini memanfaatkan pertemuan virtual untuk seminar. Hasilnya, dia bisa bertemu banyak orang se-Indonesia. Seperti dari Jawa Timur, Madura, Jakarta, dan lainnya melalui sejumlah komunitas. Di antaranya Komunitas Kita Batik, Komunitas Lembaga Sertifikasi Kompetensi Batik dan lainnya.

 

“Ada banyak informasi, kegiatan yang kita harus kuatkan untuk kualitas produksi, kualitas kompetensi dan kualitas pemasaran di saat pandemi ini. Kita buat pasar online atau virtual,” sambungnya.

 

Pada awal pandemi, dia terpaksa mengurangi jumlah pekerja. Namun begitu mulai digaungkan era normal baru, pesanan online mulai berdatangan. Akhirnya pekerja mulai beraktivitas, reseller, instansi, dan lainnya dihubungi. Seperti pesanan masker, seragam sekolah, dan karyawan bisa masuk lagi.

 

Tamzis juga melakukan terobosan dengan merambah ke pasar digital selama masa pandemi seperti sekarang. Bahkan untuk lebih serius, dia menempatkan pekerja yang bertugas menangani permintaan online (admin).

 

“Di mana banyaknya motif, banyaknya pelanggan, itu juga harus kita data secara detil,” kata dia.

 

Tamzis memang gencar melestarikan batik Pati. Dia pernah belajar ke beberapa kota yang memproduksi batik, seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan lainnya. Dia menjelaskan untuk ciri batik daerahnya, yaitu pada batik klasik dengan warnanya lebih gelap. Seperti motif Sidoasih, Bunga Mawar, Kedelai Kecer, dan motif lainnya. Meski demikian ada juga kontemporer seperti gradasi yang biasanya merupakan pesanan khusus yang sudah kekinian. Pelanggannya adalah milenial yang menyukai warna cerah, dan identik dengan pesisiran.

 

“Yang cerah-cerah, dan filosofinya yang berani mengambil keputusan, sinergi dengan pendatang, sinergi dengan budaya yang banyak. Muncul akhirya corak yang cerah sebagai simbol dari keberhasilan dan kerja sama,” imbuhnya.

 

Adapun untuk motif lokal atau ikon yang mengangkat potensi lokal Juwana seperti motif ikan bandeng yang melambangkan sumber kemakmuran warga sekitar. Ada juga motif udang windu dan udang vaname yang diangkat menjadi salah satu motif kebanggan pesisiran, motif biota laut, hingga kapal.

 

Sedangkan untuk melindungi motifnya, Tamzis sudah mendaftarkan hak cipta ke HAKI, dan dibantu Kementerian Koperasi, Bappeda, dan lainnya. Sampai saat ini, lanjut dia, dari usaha yang dirintisnya ada sekitar 400 motif diciptakan, di mana setiap motif bisa menghasilkan 80 ragam warna.

 

Tamzis juga berterima kasih dengan pemerintah yang tak henti-hentinya membantu perajin batik. Mulai dari promosi, pengaturan usaha, pendidikan, sampai pendampingan kesertifikasian professional.

 

“Pemerintah sangat mendukung pengusaha batik,” ujarnya. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)

 

Berita Terkait