Nikmati Sensasi Jamu Kekinian

  • 07 Oct
  • Prov Jateng
  • No Comments

Pekalongan – Anda pernah mencoba permen jamu? Atau ingin mencoba sensasi es krim jamu, roti isi jamu, atau sup jamu? Silakan datang ke Festival Jamu dan Kuliner 2017, di Kawasan Lapangan Jatayu Pekalongan mulai tanggal 6 – 8 Oktober 2017. Beragam sajian berbahan jamu ada di tempat itu.

Ya, minum jamu beras kencur, kunir asem, gula asam, bahkan brotowali mungkin sudah biasa dilakukan masyarakat. Terlebih, mereka yang berusia lanjut. Khasiat jamu yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit maupun menjaga stamina, membuat rasa pahit dan sengar jamu seolah terabaikan.

Namun bagaimana dengan generasi muda saat ini? Meski masih ada yang menyukai, namun banyak di antara mereka yang enggan mengonsumsinya. Kesan “kekunoan” dan rasa pahit sengar jamu, membuat mereka tak lagi mau mencicipnya meski dengan berbagai khasiat kesehatan dan kebugaran tubuh.

Menyadari mulai berkurangnya penggemar jamu, inovasi pun terus dilakukan agar jamu tidak tergerus perkembangan zaman. Terlebih, potensi empon-empon di negara ini, khususnya di Jawa Tengah, sangat banyak dan beragam.

Seperti sup jamu yang dibuat Ibu Gatot. Makanan di Stand Grobogan itu laris manis diburu pengunjung. Sekilas, bentuknya memang mirip dengan sup matahari, makanan khas daerah Solo Raya. Terbuat dari daging ayam cincang yang dipadukan dengan wortel, jagung, jamur, dan dibungkus dadar telur. Bedanya, aneka jamur dan rempah-rempah yang digunakan membuat rasanya berbeda.

Menurut Ibu Gatot, sesuai namanya, makanan itu juga sarat khasiat. Jamur lingzhi yang digunakan dipercaya dapat membantu meningkatkan sistem imun tubuh, membantu menormalkan tekanan darah tinggi atau rendah, serta mencegah penyakit stroke. Jamur putih kering baik untuk kesehatan paru-paru, jamur kuping hitam untuk kekuatan tulang, memperlancar peredaran darah, dan sebagainya.

“Untuk kuahnya, saya tambahkan jahe dan pala, yang bisa meringankan gejala influenza,” bebernya, yang dijumpai usai Pembukaan Festival Jamu dan Kuliner 2017, Jumat (6/10).

Sup jamu bisa dibeli seharga Rp 7.500 per porsi. Wanita berusia 47 tahun itu juga menjual berbagai makanan olahan rambut dan janggel atau batang buah jagung. Seperti, sirup rambut jagung, roll rambut jagung, puding jagung, dan sebagainya.

“Awalnya, saya terinsipirasi dari limbah rambut dan janggel jagung yang dibuang oleh para petani. Dari hal itu saya dibantu oleh UGM untuk meneliti khasiat dari hasil olahan kreasi rambut jagung dan janggel yang saya buat, hasilnya Alhamdulillah bisa untuk mengobati diabetes, menjaga kesehatan ginjal, menurunkan hipertensi. Bisa juga digunakan untuk menyembuhkan jerawat karena kulit jagung mengandung vitamin C,” katanya.

Tidak hanya jamu bentuk makanan dan minuman, pada festival tersebut ada pula jamu untuk refleksi. Menggunakan ramuan dayak, Yanto sang penemu menglaim ramuannya cocok untuk mengobati asam urat, rematik, flu tulang dan berbagai macam penyakit lainnya.

Pria asal Temanggung itu menjelaskan, untuk mendapatkan khasiat tersebut, pengunjung cukup merendam telapak kaki dan tangan dalam ramuan kombinasi rempah dengan air dan dua kilogram es batu. Namun sebelumnya pasien diperiksa dulu menggunakan quantum resonance.

“Kami sudah menghadirkan ramuan rendam dayak ini sejak tahun 2016 lalu. Insya Allah penyakit seperti asam urat, kolesterol, rematik dan berbagai macam lainnya bisa langsung berkurang,” jelas Yanto.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Dinas Kepemudaan, Olah Raga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Urib Sihabudin menyampaikan, perlu inovasi dengan sentuhan Iptek agar jamu tetap disukai. Baik dari aspek rasa, pengemasan maupun penampilannya yang ngepop. Sehingga mampu bersaing dengan minuman kemasan modern, serta bernilai ekonomis tinggi.

“Jamu tradisional, baik digendong, diboncengkan sepeda/ motor kelilingan, bahkan dengan mobil harus tetap ada. Demikian juga dengan cafe jamu yang penyajian jamunya divariasikan dengan susu, es, plus iringan musik. Ada pula klinik konsultasi jamu. Semuanya harus dikembangkan karena punya pangsa pasar tersendiri,” beber Ganjar.

Ditambahkan, variasi jamu, seperti es krim jamu, roti isi jamu, dan lainnya juga bisa dibudidayakan dan dikembangkan. Hal itu sekaligus mengubah mind set jamu agar tak terkesan kekunoan tapi menjadi life style kekinian masyarakat.

“Dengan demikian anak-anak kita sedikit demi sedikit juga mengenal jamu. Kalau perlu jamu asli yang biasa dijajakan mbok/ mas jamu ada di kantin-kantin sekolah maupun perkantoran. Wis to, mengko rak alon-alon semua masyarakat senang dengan jamu,” ujarnya.

Menurut gubernur, di Jawa Tengah jamu terus dikembangkan, bahkan telah merambah poliklinik. Misalnya pengembangan poliklinik obat tradisional di RS Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto dan RSUD Kelet Jepara, yang juga disertai pengembangan sentra tanaman. Di Kabupaten Semarang, tepatnya Desa Patemon, Kecamatan Tengaran juga ada pengembangan pengobatan herbal.

Plt Walikota Pekalongan, H Muhammad Saelani Mahfud SE yang membuka acara itu menambahkan kegiatan Festival Jamu dan Kuliner diselenggarakan untuk terus mengingatkan jamu sebagai warisan yang berkhasiat bagi kesehatan. Selain itu juga mengenalkan kuliner khas dari daerah, khususnya pada generasi muda yang mulai suka dengan kuliner mancanegara.

Berbagai kegiatan pun dilangsungkan untuk memeriahkan kegiatan yang sudah tahun ketujuh diselenggarakan, seperti pemilihan Duta Jamu, Festival Megono, pelatihan sulam pita dan melukis kain.

“Yang paling menarik lomba minum brotowali yang diselenggarkan Sabtu (7/10) pukul 15.00. Kita lihat nanti apakah banyak generasi muda yang ikut minum jamu yang rasanya pahit,” tandasnya. (Ul/Han, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn

Berita Terkait