Lupakan Individualisme, Lebur Bersama Nobar

  • 17 Nov
  • bidang ikp
  • No Comments

Slawi – Bagaimana perasaan orang tua melihat anak lelakinya tidak punya kerjaan, aktivitas kesehariannya hanya nongkrong bersama teman dan main gawai? Khawatir itu sudah pasti. Sebab lelaki memang diharapkan bisa memimpin rumah tangganya kelak.

Hal tersebut juga dialami orang tua Antok, yang tinggal di Dukuhwringin, Slawi, Kabupaten Tegal. Statusnya yang sudah menikah tak membuat Antok bersemangat mencari pekerjaan. Melihat kondisi itu, orang tuanya pun meminta Antok merantau untuk mencari pekerjaan.

Nyong keder, kon wis bebojoan, saben dina tura-turu, udat-udut, ngopa-ngopi, dolanan HP wae. Meh dipakani apa bojomu? Wis saiki takjatah tiga minggu kudu balik lan sukses (Saya khawatir, kamu sudah beristri, tiap hari tidur-tiduran, merokok, minum kopi, main HP saja. Mau diberi makan apa istrimu? Sekarang saya target tiga minggu harus kembali dan sukses),” ujar sang ayah.

Pamitlah Antok pergi merantau untuk bekerja. Dia berangkat kerja dengan niat baik. Akan tetapi di sepanjang jalan selalu terngiang pesan dari sang ayah, yang hanya memberi waktu tiga minggu harus kembali dengan sukses.

Setelah dua minggu berlalu, orang tua Antok heran mendapati anaknya yang pulang dengan pakaian keren, membawa makanan enak, buah-buahan dan uang yang banyak.

Kon nyambut gawe apa, kok cepet balik nggawa sakmene akeh (Apa pekerjaanmu sampai pulang cepat membawa banyak barang)?” tuduh ibunya yang mulai curiga.

Setelah dicecar dengan pertanyaan dari orang tuanya, akhirnya Antok mengaku kalau selama ini dia membantu caleg supaya terpilih dalam pemilu mendatang dengan membagi-bagikan uang kepada warga untuk memilih. Mendengar itu, sang ibu kecewa dan marah, tidak mau menerima pemberian anaknya.

Cerita tersebut disampaikan oleh Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kabupaten Tegal pada acara nonton bareng Film Jenderal Sudirman dan Pertunjukan Rakyat di Dukuhwringin, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Kamis malam (15/11).

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Kasi Sumberdaya Kehumasan dan Komunikasi Publik Dra Dyah Widiastuti menyampaikan, pertunjukan rakyat dan nonton film bareng atau layar tancap merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif, karena dapat menarik perhatian masyarakat dan lebih mudah difahami.

“Pelaksanaan kegiatan malam ini merupakan sarana penyebaran informasi yang menarik dan efektif. Menarik karena pesan yang disampaikan dikemas dalam visualisasi, alur cerita yang sistematis disertai musik. Itu semua daya tarik yang memungkinkan seseorang berniat menonton dan secara tidak sadar telah terpapar informasi”, ujarnya.

Sekretaris Fk Metra Provinsi Jawa Tengah Daniel Hakiki menambahkan nonton bareng layar tancap perlu dihidupkan kembali seiring dengan perkembangan teknologi informasi, di mana membuat hubungan antar manusia tidak terbatas ruang dan waktu. Sehingga orang-orang menjadi individualistik, bahkan jarang saling tegur dengan tetangga terdekat.

“Ketika teknologi informasi sudah semakin dahsyat, kita seperti tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita bisa berhubungan dengan siapa saja, tetapi dengan terdekat kita seperti orang terpisah. Padahal kita adalah makhluk sosial yang butuh kebersamaan. Dalam nonton bareng ini kebersamaan hadir, kita sejenak melupakan individualitas,” katanya.

Diterangkan, penyampaian informasi melalui pertunjukan rakyat yang menggunakan bahasa lokal, memudahkan masyarakat dalam menerima informasi dengan tepat.

“Melalui ruang media tradisional, informasi tersampaikan dengan baik kepada masyarakat, karena menggunakan bahasa lokal, kalau disini menggunakan bahasa Tegalan, logika yang dipakai logika Tegal. Jadi masyarakat tidak kangelan dalam mengunyah informasi,” imbuh Daniel.

Kegiatan nonton bareng di Dukuhwringin malam itu cukup menarik. Tak hanya kebersamaan, toleransi antarumat bergama pun terlihat jelas. Lokasi pagelaran yang berada di depan pura, membuat acara baru dimulai setelah selesainya ibadah yang dilakukan umat Hindu. Separuh warga desa tersebut memang beragama Hindu.

Ratusan penonton duduk bersama. Ada yang memakai jilbab dan peci, ada juga yang memakai pakaian khas Bali, karena habis beribadah. Mereka terlihat guyub, tertawa dan nonton bersama.

Kepala Desa Dukuhwringin Dani Irawan menyampaikan toleransi beragama di kalangan warganya memang tinggi.

“Bisa dilihat dari keguyuban masyarakat, semua datang menonton meramaikan suasana, menunjukan mereka mempunyai toreransi beragama. Padahal letak masjid dan pura berdekatan. Akan tetapi mereka saling menghormati,” ujarnya. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)

Berita Terkait