Kepel, Menu Takjil Favorit Khas Klaten

  • 07 Apr
  • bidang ikp
  • No Comments

KLATEN – Saat bulan ramadan seperti ini, berbagai penganan ringan menjadi buruan untuk menu berbuka. Kepel satu di antaranya, kudapan gurih melegenda khas Klaten ini, laris manis dijadikan menu takjil.

Kepel atau kepelan, adalah jajanan yang terbuat dari olahan tepung yang dicampur dengan bumbu lalu digoreng. Dari segi bahasa, kepel berati mengepal atau sekepalan tangan. Ini berasal dari proses pembuatan kudapan yang dikepal-kepal sebelum digoreng.

Penganan ini, dapat ditemui nyaris di seluruh wilayah Kabupaten Klaten. Namun, pembuat aslinya adalah warga Desa Keden, Kecamatan Pedan sejak tahun 1970-an.

Adalah Sumiyem Warso Suwito, pembuat kepel generasi kedua. Janda berusia 65 tahun itu menyebut, mewarisi keahlian pembuatan kepel dari ibu mertuanya.

“Kepel itu dibuat dari tepung terigu dicampur bawang, sarem (garam), kemudian diuleni dengan air lalu digoreng. Rasanya gurih,” ujarnya, Kamis (7/4/2022).

Sumiyem menyebut, saat awal berjualan, adonan kepel juga dicampur dengan jeroan sapi, yakni babat. Namun seiring zaman, pencampuran babat pada kepel sudah tidak dilakukan lagi. Selain itu, ukuran penganan ini pun semakin mengecil, tidak lagi segenggaman tangan.

Pada zamannya, kepel banyak digemari oleh anak-anak sekolah dasar, yang kala itu dihargai Rp5 setiap kepel. Namun, kini Sumiyem tak lagi berjualan, karena kondisi fisik menurun, dan anaknya tidak meneruskan usahanya itu.

Raose¬† gurih trus disukani ulam jeroan lembu niku sak benik dirajang dicampurke niku sak glintir sak benik. Sakniki mlampah pun angel kula. (Rasanya gurih, dulu dikasih jeroan sapi sebesar kancing. Sekarang saya sudah susah jalannya),” imbuhnya.

Pembuat kepel di Desa Keden, Suwarni mengatakan sudah 35 tahun berjualan Kepel. Dari usahanya ini, dia bisa menyekolahkan dua anak dan memperbaiki rumah.

“Kalau sekarang jualnya Rp1.000 dapat lima. Nek puasa seperti ini banyak yang beli, ini ada yang beli Rp100 ribu, untuk takjil,” sebutnya

Kepala Desa Keden, Agit Adhetya Putra menjelaskan, saat ini perajin kepel di wilayahnya berjumlah 5-10 orang. Namun, banyak juga mereka dari luar Keden yang berjualan kepel.

Ia mengatakan, akan terus melakukan pembinaan terhadap perajin agar meningkatkan kualitas kepel. Itu dilakukan dengan memberikan edukasi terkait cara penyajian jajanan itu.

Selain itu, ia berharap generasi muda melakukan modifikasi terhadap kepel. Sehingga kudapan itu dapat diterima kalangan luas.

“Sekarang kan sampai alun-alun Klaten pun banyak yang jual. Kalau bulan puasa biasanya kepel paling enak sebagai makanan pembuka, minumnya teh hangat. Ada juga yang dibuat sate, kepel disunduki, dan dibakar,” pungkas Agit. (Pd/Ul, Diskominfo Jateng)

 

Berita Terkait