Jangan Terjebak Berita Monoton

  • 19 Dec
  • bidang ikp
  • No Comments

YOGYAKARTA – Suasana ruang pertemuan di Grand Daffam Rohan Hotel Yogyakarta, Rabu (18/12/2019) siang sontak ramai. Peserta rapat yang semula duduk rapi mengikuti Pertemuan Sinkronisasi Kehumasan, langsung beringsut. Mereka sibuk berswafoto dan merekam video.

Ya, mereka tengah melakukan praktik langsung membuat vlog dengan sebuah aplikasi, tanpa perlu proses edit yang ribet, hanya gawai. Mereka terlihat antusias melakukan arahan dari narasumber yang menyuruh berswafoto, merekam beberapa video yang nantinya akan dirangkai menjadi sebuah video.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Rulli Nasrullah yang kerap disapa Kang Arul menyampaikan, saat ini masyarakat lebih menyukai informasi yang disampaikan secara visual atau video. Cukup dengan gawai, ASN diharapkan dapat membuat video untuk mempublikasikan apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat.

“Di era digital, aspek visual, aspek video, aspek infografis menjadi peting, karena ┬ámenarik minat netizen untuk melihat keberhasilan dan pencapaian-pencapaian yang dilakukan oleh Pemprov Jateng. Hanya dengan modal HP (handphone) dan setiap ASN di Jateng pasti punya HP, sehingga bisa memroduksi konten-konten visual dan video publikasi,” jelas Kang Arul.

Tidak hanya praktik membuat vlog, peserta juga diberi pelatihan teknik penulisan berita. Para peserta diminta untuk menulis kembali lead sebuah berita yang sudah tayang di sebuah berita online.

Wakil Pimpinan Redaksi Agus Toto menyampaikan yang paling penting dalam penulisan berita adalah lead.

“Dalam lead kita harus menonjolkan informasi-informasi yang terkait dengan 5W 1H. Lead ini harus head to the point, harus langsung ke inti berita,” ujar Toto.

Dijelaskan, beberapa jenis lead yang bisa digunakan, sehingga berita yang dihasilkan tidak monoton. Kebanyakan penulisan dari humas pemerintah itu terjebak dalam menulis memakai lead who, how, what dan why, yang menyebabkan informasi cepat basi dan jenuh. Berbeda kalau menggunakan lead deskriptif, yang biasanya dipakai oleh penulis yang mengandalkan tulisan human interest.

“Humas pemerintah ada kecenderungan menulis berita yang hanya menonjolkan kepala daerahnya saja. Kita tidak hanya menginfokan kepala daerah saja, namun kita juga bertanggung jawab membentuk citra dari instansi kita. Kalau kita membentuk citra dengan lead who, ya nanti masyarakat akan cepat jenuh dengan informasi tersebut,” imbuhnya.

Selain diajarkan membuat vlog, penulisan berita, peserta pelatihan juga diajarkan teknik fotografi oleh fotografer senior Chandra AN.

Peserta dari RSUD Moewardi Merry Grace terlihat antusias dengan pelatihan tersebut. Sebab, tidak hanya teori, namun mereka langsung diajarkan praktik.

“Materinya asyik, banyak praktiknya, dengan narasumber yang kompeten dan bisa memosisikan diri sebagai ASN. Bagaimanapun teknik yang kita butuhkan ada sedikit perbedaan dengan profesional lainnya di luar sana. Sebagai ASN ada beberapa elemen yang harus kita perhatikan untuk menjadi humas instansi pemerintah,” ujar Merry. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)

 

 

Berita Terkait