Tingkatkan Kualitas Pendidikan, SKB Didorong Jadi Garda Terdepan Pendidikan Nonformal

02 March 2026
Yandip Prov Jateng (1)

KOTA PEKALONGAN – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) adalah garda terdepat dalam pemberian akses pendidikan nonformal bagi masyakarat. SKB menjadi bagian dari peningkatan kualitas pendidikan dengan pendekatan inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Demikian disampaikan Kepala BBPMP Jawa Tengah, Nugraheni Triastuti, saat mengunjungi Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan, beberapa waktu lalu.

“Pendidikan nonformal memiliki peran strategis dalam memperluas akses belajar dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal. SKB menjadi garda terdepan dalam menghadirkan kesempatan kedua yang berkualitas bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, penerapan inklusivitas tidak berhenti pada penerimaan peserta didik, melainkan juga pada proses pembelajaran yang dirancang adaptif sesuai kebutuhan individu.

“Dimulai dari asesmen awal, modifikasi strategi pembelajaran, pendampingan berkelanjutan, hingga evaluasi yang berkeadilan, semua harus dirancang dengan prinsip keberpihakan pada kebutuhan warga belajar,” tegas Nugraheni.

Lebih lanjut, integrasi pendidikan dengan program pemberdayaan masyarakat merupakan sesuatu yang urgen. Pendidikan kesetaraan diharapkan tidak hanya berorientasi pada perolehan ijazah, tetapi juga pada penguatan kecakapan hidup (life skills), keterampilan vokasional, dan kemandirian warga belajar.

“Lulusan pendidikan kesetaraan harus memiliki kompetensi yang aplikatif dan berdaya saing. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pendidik, tata kelola lembaga, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci peningkatan mutu,” imbuhnya.

Kepala SKB Kota Pekalongan, Lisa Anggraeni menuturkan, pihaknya telah menerapkan layanan pembelajaran adaptif dengan pembagian waktu, yakni penyelenggaraan Program Paket A inklusi dan Paket A reguler pada pagi hari, serta Program Paket B dan Paket C pada sore hari.

”Pengaturan ini dilakukan agar pendampingan lebih terfokus, pengelolaan kelas lebih efektif, serta kebutuhan belajar masing-masing kelompok dapat terfasilitasi secara optimal. Evaluasi berkala juga dilaksanakan untuk memastikan pembelajaran berjalan sesuai prinsip diferensiasi dan keadilan akses,” bebernya.

Ke depan, pihaknya berharap, kolaborasi dan pendampingan dari BBPMP Jawa Tengah dapat terus berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan, peningkatan kapasitas pendidik, serta penguatan sarana prasarana, pendidikan nonformal diharapkan semakin kokoh sebagai ruang kesempatan kedua yang bermutu, setara, dan memberdayakan masyarakat.


Penulis: Dian, Tim Liputan Kominfo Kota Pekalongan
Editor: Tn, Diskomdigi Jateng

Skip to content