REMBANG – Teknologi REWAX-IoT atau pemulihan dan daur ulang malam batik berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan SMP Negeri 1 Lasem, berhasil meraih Juara I pada ajang Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 kategori pelajar, sekaligus meraih Juara II Rembang Innovation Award 2026.
Ketua Tim Krenova SMP Negeri 1 Lasem, Ummi Roihana Zulfa menjelaskan, REWAX-IoT dirancang untuk mengolah kembali limbah malam batik, melalui beberapa tahapan proses.
“Prosesnya dimulai dari tangki pemanasan dan tangki pemisahan, yang berfungsi memisahkan limbah malam batik. Setelah itu, malam yang dihasilkan diolah kembali sehingga dapat digunakan lagi, untuk membatik seperti biasa,” jelas Ummi, pada Rembang Innovation Award, di Pendapa Museum Kartini, Selasa (4/8/2026).
Disampaikan, ide tersebut lahir dari tingginya volume limbah malam batik di Lasem, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kami memilih inovasi ini karena limbah malam batik di Lasem mencapai sekitar 100 kilogram per bulan. Karena itu, kami memutuskan untuk mengolah limbah tersebut agar dapat dimanfaatkan kembali,” katanya.
Berdasarkan hasil pengujian, lanjutnya, malam hasil daur ulang dari REWAX-IoT menunjukkan kualitas yang sangat baik. Uji pH menunjukkan angka 7,34 atau berada pada kategori aman. Selain itu, hasil uji viskositas menunjukkan, malam daur ulang lebih lancar dibandingkan malam baru, maupun limbah malam sebelum diolah.
Ummi menambahkan, proses riset hingga pengembangan alat dilakukan dalam waktu sekitar satu bulan, sebelum akhirnya mengikuti kompetisi inovasi.
“Hasil uji daya lekatnya baik, fleksibilitasnya juga baik, dan titik lelehnya berada pada suhu 84 derajat celsius,” terang Ummi.
Melalui REWAX-IoT, imbuhnya, SMP Negeri 1 Lasem tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi tepat guna, tetapi juga menunjukkan, pelajar mampu berkontribusi dalam menciptakan solusi bagi persoalan lingkungan, sekaligus mendukung keberlanjutan industri batik Lasem, yang menjadi salah satu identitas budaya Kabupaten Rembang.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Rembang, Afan Martadi menyebut, inovasi tersebut menjadi salah satu yang paling menonjol, karena berhasil mengubah limbah menjadi produk yang dapat digunakan kembali, dengan kualitas yang lebih baik.
“Inovasi ini mengolah malam limbah batik yang sudah digunakan untuk membatik agar bisa dipakai kembali. Dari hasil pengujian, kualitas malam hasil daur ulang justru lebih baik dibandingkan malam yang digunakan sebelumnya,” ujar Afan.
Selain memberikan manfaat ekonomi bagi perajin batik, inovasi tersebut juga berkontribusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah industri batik.
“Bisa mengurangi limbah dan kualitas malamnya justru lebih bagus setelah dilakukan daur ulang,” tambahnya.
Penulis: Mifta Rembang
Editor: Di, Diskomdigi Jateng
