WONOSOBO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo meluncurkan Gerakan Wayah alias Waktu Bersama Ayah dan Kelas Aman (Ayah Idaman), pada puncak Festival Cinta Keluarga IV, di Pendopo Bupati Wonosobo, Senin (6/7/2026). Peluncuran kedua program tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 dan Hari Anak Nasional ke-42.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menuturkan, kedua program itu diharapkan menjadi gerakan bersama masyarakat untuk menyiapkan peran ayah, sejak masa kehamilan hingga mendampingi proses tumbuh kembang anak.
“Semangat ‘Ayah Wajib Hadir’ harus benar-benar diwujudkan di dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran ayah bukan hanya secara fisik, tetapi hadir untuk mendengar, mendampingi, membimbing, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya,” tegasnya.
Afif, sapaan akrabnya, menyampaikan, gerakan tersebut tidak hanya ditujukan kepada ayah kandung, tetapi juga kepada seluruh figur ayah dalam keluarga, seperti kakek, paman, wali, maupun sosok laki-laki yang menjadi panutan bagi anak.
Menurutnya, keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap anak, tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan, karakter dibentuk, serta cita-cita mulai tumbuh. Karena itu, pembangunan keluarga harus hadir pada setiap fase kehidupan, mulai dari memastikan anak lahir sehat, memperoleh gizi yang baik, tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang, hingga mempersiapkan remaja dan lansia agar mampu menjalani kehidupan secaraberkualitas. Seluruh ikhtiar itu bermuara pada satutujuan, yakni membangun sumber daya manusia yang unggul.
“Jika keluarga kita kuat, kita optimistis Wonosobo mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, serta siap menyongsong Indonesia Emas 2045. Mari kuatkan keluarga hari ini, hadirkan pengasuhan yang berkualitas, dan siapkan generasi unggul sebagai penggerak terwujudnya Wonosobo yang semakin sejahtera, adil, dan makmur,” pungkasnya.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Wonosobo, Dyah Retno Sulistyowati, mengatakan, saat ini masyarakat menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama akibat perkembangan teknologi digital. Tingginya penggunaan internet oleh anak-anak membawa peluang sekaligus ancaman bagi kualitas relasidalam keluarga.
“Teknologi memang membuka peluang belajar, tetapi di sisi lain juga mengurangi interaksi dan kualitas komunikasi antara orang tua dengan anak. Banyak keluarga tinggal serumah, tetapi jarang benar-benar bersama,” ujarnya.
Selain tantangan digital, pembangunan keluarga di Wonosobo masih dihadapkan pada persoalan stunting, perkawinan usia anak, serta kekerasan terhadap perempuandan anak.
Dyah mengungkapkan, hingga semester pertama tahun 2026 terdapat 146.404 keluarga berisiko stunting dari total 280.520 keluarga di Kabupaten Wonosobo. Saat ini, semua keluarga tersebut dalam pendampingan 2.034 Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Lebih lanjut, sejak Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) dibentuk pada Februari 2026, terdapat 42 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan ke unit tersebut. Seluruhnya telah berhasil ditangani. Sementara itu, persoalan perkawinan usia anak masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Hingga akhir 2025, terdapat 264 kasus perkawinan usia anak, dengan kecenderungan meningkat pada masa transisi pendidikan dari jenjang SMP ke SMA. Fase tersebut juga menjadi titik rawan putus sekolah.
“Persoalan-persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Kolaborasi seluruh perangkat daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, kader, hingga keluarga menjadi kunci untuk membangun keluargayang berkualitas,” jelas Dyah.
Ia pun mengajak seluruh keluarga di Wonosobo menerapkan slogan Lima Langkah Cinta Keluarga, yaitu, mencintai sebelum berharap dicintai, mengenali potensi setiap anggota keluarga dan mendukung cita-citanya, dan meluangkan dua jam “Senja Keluarga” setiap hari.
Selain itu, mengarusutamakan pendidikan agama sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan, dan menerapkan pola hidup bersih, sehat, dan peduli lingkungan.
Diah mengungkapkan, pihaknya terus membangun ekosistem keluarga secara menyeluruh, mulai dari pendampingan calon pengantin, pelayanan keluarga berencana, pendampingan ibu hamil dan balita pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, pembinaan remaja melalui Program Generasi Berencana (GenRe) dan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), perlindungan perempuan dan anak, hingga pembinaan lansia agar tetap sehat, mandiri, dan produktif.
Atas berbagai upaya tersebut, ujarnya, Wonosobo telah memiliki 175 Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) serta Kampung Keluarga Berkualitas di seluruh desa dan kelurahan. Prestasi tersebut mengantarkan Kabupaten Wonosobo menjadi daerah dengan penetapan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Paripurna jenjang SMP/sederajat terbanyak di Jawa Tengah dan Indonesia selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2024 dan 2025.

Penulis: Sofyan, Kontributor Wonosobo
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng
