“Sing Waras Aja Gelem Ngalah”

Semarang – Menangkal dan melawan penyebaran hoax harus dilakukan atas kesadaran sendiri dan berbarengan oleh seluruh warga. Para pelaku gerakan anti fitnah pun harus mau capek menghadapi hoax-hoax yang bertebaran.

“Kita lima besar negara paling cerewet di sosial media, namun literasinya terendah. Makanya dengan banyak hoax yang bertebaran ini bisa membuat ketahanan bangsa jadi turun. Suka tidak suka kita tidak bisa tinggal diam dan harus berani menghadapi hoax,” kata Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP saat sarasehan nasional yang diadakan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) di Wisma Perdamaian, Kamis (20/4) sore.

Salah satu cara yang disampaikan Ganjar dalam menghadapi hoax adalah dengan tidak mengalah dan memberikan penjelasan kepada mereka yang menyebarkan hoax. Tentunya hal itu mesti didukung dengan data yang benar.

“Yang cukup waras kita kasih datanya. Itu cara kita mengedukasi dan harus mau capek. Jangan sampai yang ngasih penjelasan itu orang yang tidak jelas dan tidak tahu apa-apa, karena kalau dia terus yang ngasih penjelasan malah dianggap jadi hal yang benar,” tegasnya.

Ganjar berharap selain berita-berita buruk dan hoax yang harus dilawan, hal-hal yang positif juga perlu disampaikan. Seperti prestasi dan potensi desa-desa di Jateng, mulai dari produk yang dihasilkan hingga kegiatan-kegiatan yang menarik.

“Jangan cuma yang negatif-negatif saja yang disampaikan, nanti jadi kebiasaan jelek. Hal yang positif dan yang berprestasi juga perlu disampaikan,” tutur mantan anggota DPR RI ini.

Selain Gubernur Jateng, hadir sebagai narasumber pada sarasehan tersebut, Harijanto Halim mewakili etnis Tionghoa Semarang, seniman budayawan Timur Sinar Suprabana, dan kiai kharismatik KH Mustofa Bisri.

Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus menyampaikan berita yang tidak jelas kebenarannya jangan dibiarkan. Namun mesti dilawan dengan kebenaran.

Sing waras aja gelem ngalah. Karena untuk mengatasi berita-berita (hoax) yang tidak benar itu, kita-kita ini (yang waras) yang seharusnya maju melawan,” kata kiai asal Rembang ini.

Lebih lanjut Gus Mus mencontohkan sikap kepantasan seorang manusia yang dirasakan saat ini hilang dari jati diri bangsa. Seberapa pantas seseorang untuk ber-tabayun ketika menerima hoax dan tidak menyebarkan kembali hoax tersebut.

 

“Intinya memunculkan kesadaran untuk pantas, pantaskah ini (hoax) untuk disebar. Edukasinya bisa nggak kita saat menerima pesan tidak mem-forward-nya kembali dan mulai belajar berani men-delete. Sehingga melawan hoax itu jadi kesadaran sosial,” katanya.

 

Penulis : Hr, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn