Sekolah Unggul, “Best Process” Bukan “Best Input”

Semarang – Masuk ke sekolah “favorit” harus punya nilai tinggi. Anggapan tersebut harus diubah. Sebab, semestinya sekolah hebat itu sekolah yang mampu memroses input atau anak didik yang biasa, menjadi anak-anak yang hebat.

Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah H Widadi SH menyampaikan saat ini sekolah unggulan selalu ramai menjadi tujuan utama orang tua yang menginginkan putera-puterinya memperoleh pendidikan berkualitas. Orang tua umumnya meyakini, sekolah unggulan adalah tempat belajar yang tepat bagi anak-anak mereka yang berprestasi.

Kondisi tersebut kontras dengan sekolah lainnya yang tidak berlabel sekolah unggulan. Meski terdaftar dalam rayonisasi, sekolah-sekolah tersebut terkadang dipandang sebelah mata oleh orang tua.

Pandangan orang tua tentang sekolah unggulan perlu diubah. Sekolah unggulan tidak semata-mata menjadi komunitas pendidikan bagi “bibit-bibit unggul”. Paradigma sekolah unggulan justru tampak pada proses pendidikan yang mampu mengantarkan anak didik yang prestasinya semula biasa saja menjadi lulusan yang sukses.

“Paradigma tentang sekolah favorit dianggap sekolah yang memfokuskan pada best input sebagai sekolah unggulan. Padahal hakikatnya sekolah unggulan adalah best process,” terangnya saat menghadiri Halal bihalal Keluarga Besar PGRI Provinsi Jawa Tengah bertajuk “Kembali Fitri, Mendidik dengan Sepenuh Hati” di Balairung UPGRIS, Sabtu (15/7).

Ditambahkan, berkumpulnya orang-orang hebat dalam sebuah sekolah favorit biasanya dari kalangan menengah ke atas. Sehingga, menjadi malas untuk membangun lembaga pendidikan yang best process karena input-nya sudah bagus. Padahal, sekolah hebat adalah sekolah yang memroses input yang biasa, bisa karena prestasi UN atau kondisi ekonominya, menjadi anak-anak yang hebat.

Lebih lanjut, Widadi menerangkan, orang tua dan guru hendaknya memandang setiap anak sebagai masterpiece yang diciptakan oleh Tuhan. Mereka istimewa karena memiliki bakatnya masing-masing.

“Apakah anak nanti akan menjadi bintang atau tidak menjadi bintang itu tergantung pada mindset orang tua dan mindset guru. Kalau guru memiliki mindset bahwa setiap anak adalah bintang, maka dia akan mendidik anak dengan cara membintangkan anak. Sehingga anak nantinya benar-benar menjadi bintang,” tambahnya.

Selain itu, Widadi mengapresiasi PPDB yang diselenggarakan secara online karena merupakan upaya nyata untuk mewujudkan pendidikan berkualitas yang berkeadilan, tanpa diskriminasi.

“Sekolah itu adalah tempat pendidikan berkualitas untuk semua kalangan, berkeadilan tanpa diskriminasi. Ini sudah diwujudkan melalui sistem online. Dengan sistem online Ini kemungkinan penyimpangan, ketidakadilan, ketidaktransparan bisa ditekan,” ujarnya mengapresiasi.

Senada dengan Widadi, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP menjelaskan, penyelenggaraan PPDB online merupakan upaya nyata untuk menegakkan integritas di bidang pendidikan untuk menghindari “calon siswa titipan”. Orang nomor satu di Jawa Tengah itu menambahkan, upaya lainnya untuk menegakkan integritas adalah memastikan tidak ada lagi setoran untuk pimpinan ataupun jual beli jabatan di sekolah.

“Nilai-nilai kejujuran sekarang kita dorong. Dengan integritas ini Bapak/Ibu bisa tidur nyenyak karena tidak perlu memikirkan setoran untuk atasan. Kalau ada atasan yang mengganggu atau memberikan tekanan silakan laporkan kepada saya,” tegasnya.

Alumnus UGM itu juga mengajak para guru untuk menciptakan atmosfer belajar yang menyenangkan. Sehingga siswa bersemangat saat belajar. Selain itu, inovasi pendidikan harus senantiasa dikembangkan untuk mewujudkan pembelajaran yang kreatif.

“Yuk kita ciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan. Sehingga anak-anak kita kalau mau sekolah itu bersemangat. Saya sampaikan juga kepada bapak ibu guru bagi yang memiliki inovasi pendidikan silakan disampaikan, jangan ragu,” pesannya.

 

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn