Periset Ditantang Kaji Produk Syariah yang Kompetitif

Surakarta – Bank syariah di Indonesia saat ini sudah sangat mudah dijumpai masyarakat. Namun, menjamurnya bank syariah ternyata belum diiringi dengan kegiatan ekonomi syariahnya.

“Bank syariah sekarang jumlahnya sudah cukup besar. Mimpi pertama (dari sisi tumbuhnya bank syariah) sudah tercapai. Tapi rupanya kita sadar, lembaganya nggak cukup. Mengembangkan ekonomi syariah tidak cuma lembaganya,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso SE MSC dalam acara Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah XVI di Universitas Sebelas Maret, Selasa (12/9).

Dia membeberkan perbankan syariah sebenarnya diharapkan mampu mencapai 20 persen market share pasar perbankan. Namun faktanya, market share tersebut sulit dicapai. Salah satu penyebabnya faktor perbankan konvensional yang juga tumbuh, bahkan lebih besar.

“Kalau kita lihat, ada tantangan disitu. Ibaratnya, bus banyak tapi untuk mendorong industrinya (nasabahnya) tidak banyak. Penumpangnya masih suka naik bus umum atau masih memilih bank konvensional. Ini jadi catatan riset kita,” tutur Wimboh.

Memaksakan bank syariah untuk mengejar target, imbuhnya, juga riskan. Sebab, kemungkinan besar nasabah yang masuk tidak layak menjadi nasabah.

“Kalau kita target setoran, bisa jadi ‘penumpang-penumpang’ yang kita angkut sebenarnya tidak layak jadi penumpang karena di bank konvensional, rupanya ‘penumpang’ itu sudah ditolak, sehingga riskan. Itu perlu kita sadari, ” jelas Wimboh.

Diakui, manfaat produk perbankan syariah yang diterima nasabah kurang kompetitif dibanding dengan bank konvensional. Apabila di-compare dari suku bunga, suku bunga tabungan bank konvensional lebih tinggi dari bank syariah. Demikian juga dengan suku bunga pinjaman, bank konvensional lebih rendah.

“Periset-periset ini tahun depan kita tantang, ada nggak yang bisa buat kajian supaya produk syariah lebih kompetitif dan bervariatif. Sekarang ini kalau ditanya, kenapa tidak berkembang (bank syariah), karena produknya nggak banyak. Jadi produk syariah belum bisa menjangkau semua kebutuhan di sektor keuangan,” terang dia.

Wimboh yakin, apabila masyarakat mendapatkan value added dari keberadaan bank syariah, masyarakat pasti akan memilih bank syariah.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP menyampaikan hal senada. Saat bertanya kepada masyarakat mengenai perbankan syariah, sebagian besar masyarakat ternyata belum mengetahuinya. Lantaran tidak tahu, maka bank syariah tidak menjadi alternatif atau pilihan untuk mereka mengakses keuangan.

Ganjar berpendapat, perlu ada scheme khusus bagi bank syariah karena scheme yang saat ini ada tidak mudah dipahami masyarakat. Istilah bagi hasil misalnya, bisa memunculkan pertanyaan di masyarakat, hasil siapakah yang dibagi.

“Kalau kontek dalam perbankan, kita akan bagi hasil itu, pikiran masyarakat makin berat. Hasilnya siapa yang mau dibagi. Kalau saya ikut kerja keras, nanti kalau saya rugi gimana. Relatif masyarakat nggak mau menanggung risiko itu. Harus ada scheme yang lebih mudah,” terang dia.

Ganjar merasa senang, apabila perbankan syariah ikut mengambil peran dalam memberikan akses keuangan kepada masyarakat kelompok petani, nelayan dan UMKM. Sebab, merekalah yang paling membutuhkannya. Ganjar memberi contoh kebutuhan nelayan ketika hendak melaut.

“Nelayan setiap melaut untuk kapal kecil dia butuh duit Rp 400 -500 ribu untuk logistik. Bawa beras, mi instan, beli minyak. Yang masuk rentenir dan juragannya. Nanti ikannya tidak akan punya harga karena ikannya akan dibeli yang meminjami duit,” ungkapnya.

Skema pengembalian hutang secara harian untuk nelayan, bisa dicoba oleh perbankan, khususnya perbankan syariah. Sebab, hasil one day fishing sudah bisa dihitung.

“Yang ini belum terjadi, sehingga yang masuk rentenir dan tengkulak. Termasuk terjadi di pasar-pasar. Mungkin pertemuan ini, dari PR yang saya berikan, akan bisa dibantu. Seandainya akan diadakan ujicoba, Jateng siap. Nanti kita dorong,” tutupnya.

 

Penulis : Rt, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn