Pendidikan Formal Tak Batasi Inovasi Alumnusnya

Semarang – Menempuh pendidikan formal tak menjadi jaminan alumnusnya akan berkarya di bidang ilmu yang mereka pelajari. Banyak di antaranya yang justru berinovasi dan membuat terobosan di bidang lain.

Lihat saja kiprah Yudik Prianto, lulusan akademi pelayaran yang menemukan media semai berbahan utama kotoran cacing. Begitu pula dengan Sumiyanto penemu Magic Ring penghemat BBM yang hanya berijazah SMA.

Hal itu terungkap dalam dialog interaktif ‘Gayeng Bareng Gubernur Jateng’ di mana Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP bertindak selaku host, yang berlangsung di Studio TVRI Jateng, Senin (11/9).

Menurut Yudik Prianto, penemu media semai berbahan utama kotoran cacing, inspirasi yang mendorong untuk membuat temuan tersebut datang dari pencemaran plastik yang biasa dilakukan petani yang menanam bersama dengan plastik polybag. Kondisi tersebut membuat kesuburan tanah berkurang karena plastik membutuhkan waktu untuk terurai hingga ratusan tahun.

“Permasalahan pencemaran plastik polybag di sekitar saya ini yang mendorong saya meriset dan meneliti. Butuh waktu dua tahun untuk menciptakan media semai pengganti tanah ini,” katanya.

Berkat kegigihannya tersebut pria lulusan akademi pelayaran ini sekarang mampu menuai jerih payah dari temuannya. Dari hasil jualan media semai itu dia mampu menghasilkan omset sekitar Rp 20 juta – Rp 30 juta setiap bulan.

Sama halnya dengan Sumiyanto penemu Magic Ring penghemat BBM. Meski hanya berijazah SMA dia tergerak untuk melakukan riset supaya kendaraan bermotor lebih irit BBM, namun mampu menambahkan kekuatan pada motor dan lebih cepat mendinginkan mesin.

Hasil temuannya itu terbukti mampu menghemat BBM hingga 30 persen. Bahkan secara rutin dipesan oleh industri motor Viar untuk diaplikasikan ke dalam produksi motornya.

Magic Ring ini dipasang pada knalpot mobil atau motor dan sekarang sudah diproduksi massal ada tujuh jenis Magic Ring yang dapat dipakaikan ke 80 kendaraan yang ada di Indonesia,” katanya.

Temuan inovatif yang tidak kalah membanggakan datang dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang berhasil menciptakan mobil berjenis jip yang dinamakan mobil desa. Mobil itu memang untuk transportasi hasil pertanian pedesaan yang dinilai masih minim. Yang luar biasa dari mobil itu konten lokalnya mencapai 80 persen. Sehingga harga yang dibandrol tidak terlalu mahal, hanya berkisar Rp 60 juta – Rp 75 juta per unit.

Anggota Dewan Riset Daerah Provinsi Jawa Tengah Prof Dr Ir  Saratri Wilonoyudho MSi mengatakan banyak temuan yang justru lahir tidak dari ilmu pengetahuan yang dipelajari. Melainkan dari kreativitas dan inovasi yang terus dikembangkan lewat pembelajaran secara langsung pada alam atau fenomena-fenomena yang ada. Kebutuhan masyarakat akan teknologi yang membantu mempermudah pekerjaan atau meningkat hasil produksi juga memiliki andil terciptanya temuan-temuan yang inovatif.

“Jadi rasa membutuhkan itulah yang mendorong mereka untuk kreatif,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Ganjar mengatakan inovasi-inovasi yang diciptakan masyarakat Jawa Tengah menambah optimisme untuk dapat bersaing baik dari dalam maupun luar negeri. Pemerintah akan mendorong untuk menggerakan dan menumbuhkan potensi-potensi inovasi yang dimiliki agar dapat digunakan oleh khalayak ramai dan dapat meningkatkan kemandirian Jawa Tengah.

“Ada banyak temuan yang menurut saya sangat menarik. Kalau kita melihat dari apa yang ada ini nampak-nampaknya kita makin optimistis. Tinggal sekarang kita mesti merangkai agar kemudian bisa tumbuh,” pungkasnya.

 

Reporter : Kh, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Foto : Humas Jateng

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn