Pemprov Siap Fasilitasi Hak Paten Genteng Sokka

Kebumen – Bicara genteng, tak sedikit orang yang mengenal genteng Sokka. Ketenaran genteng Sokka itu pula yang membuat pengrajin di luar Kebumen mengaku produk genteng bikinannya dengan nama serupa.

Kondisi tersebut membuat persaingan genteng Sokka semakin ketat. Belum lagi dengan persaingan dengan genteng pabrikan. Karenanya warga berharap pemerintah membantu pengurusan hak paten genteng Sokka sebagai produk Kebumen.

Taryono, mantan perajin genteng Sokka mengungkapkan Sokka berasal dari nama sebuah pedukuhan di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan. Genteng dari daerah itu telah populer seantereo nusantara, bahkan pernah ekspor ke Belanda. Sentra kerajinan genteng berbahan tanah liat tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Sruweng, Pejagoan, Klirong, dan Kebumen.

Untuk melindungi perajin, genteng Sokka perlu dipatenkan. Sehingga, tidak ada produk genteng dari daerah lain yang mengaku sebagai genteng Sokka.

“Hak paten harus benar-benar dipatenkan untuk merek Sokka. Karena selama ini tidak sedikit produk sejenis luar daerah yang mengaku genteng produk Sokka,” pinta Taryono kepada Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP saat berdialog dengan pengusaha dan perajin genteng Sokka di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kebumen, Rabu (13/9).

Menangapi permintaan Taryono, gubernur menyatakan pihaknya siap membantu dan memfasilitasi perajin genteng Sokka mematenkan produknya sehingga tidak digunakan oleh daerah lain atau pabrikan.

“Kami siap memfasilitasi perajin untuk mematenkan genteng Sokka. Ini ide brilian, saya sangat setuju,” tandas Ganjar.

Ditambahkan, agar tetap “berkibar” dan bisa melawan persaingan genteng pabrikan, dibutuhkan inovasi, penerapan teknologi, serta riset tentang spesifikasi tanah untuk bahan baku pembuatan genteng Sokka yang berkualitas. Sebab, selalu saja kalau sifatnya industri rumah tangga akan sulit bersaing melawan pabrikan.

Untuk memajukan produk genteng Sokka yang kini terus tergerus produk pabrikan, menurut gubernur perlu penggunaan teknologi atau alat modern agar proses pengerjaan lebih efektif dan efisien. Misalnya yang selama ini prosesnya diinjak-injak atau digebuk kemudian diganti dengan molen. Demikian pula teknik pencetakan hingga pembakaran tidak lagi semi manual.

“Apabila semua bisa dimodernisasi maka Sokka akan lebih berkembang. Jadi core bisnis yang pernah ada brand yang pernah muncul dan kemudian bisa kita kembangkan kepada yang lain, kalau tidak ini trendnya akan menurun dan kolaps,” ujarnya.

Bahkan sudah ada salah seorang warga Desa Kedawung yang dikirim ke Jepang untuk belajar tentang proses tentang pembuatan genteng. Industri genteng di Negeri Sakura mampu membantu menggerakkan ekonomi di tingkat desa. Karenanya tata usaha pembuatan genteng di Jepang mendapat suntikan dana dan teknologi dari pemerintah.

“Kalau model itu akan kita tiru, maka di Sokka ini butuh laboratorium untuk menguji kadar tanah yang paling bagus untuk bahan baku genteng,” imbuhnya.

Selain itu, untuk mempertahankan industri genteng Sokka yang pernah berjaya pada jaman penjajahan Belanda atau sekitar tahun 1920-an, orang nomor satu di Jawa Tengah itu menyarankan mengembangkan kelembagaan usaha dengan mengumpulkan para perajin dalam suatu wadah koperasi. Apabila terdapat lebih dari seribu perajin, akan lebih baik membentuk koperasi dengan anggota minimal 500 orang.

Pada kesempatan itu, mantan anggota DPR RI itu menawarkan kepada para perajin untuk mencoba diversifikasi atau penganekaragaman produk melalui belajar teknologi keramik yang lain atau tidak hanya dalam bentuk genteng. Seperti peralatan rumah tangga atau kerajinan lain berbahan baku tanah liat, sehingga produk akan berkembang lebih variatif.

“Bisa belajar ke Kasongan. Ada juga seorang perajin keramik ¬†perlu belajar pada perajin keramik warga Boyolali yang produknya keren,” tandasnya.

 

Penulis : Mn, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn