Jarimu Harimaumu

Semarang – Organisasi keagamaan yang diikuti oleh kaum muda menjadi salah satu sarana menempa diri menjadi calon pemimpin yang tangguh. Namun, menjadi pemimpin tangguh bukan perkara mudah. Setiap anggota organisasi ditantang untuk menjadi teladan dalam berperilaku, sesuai ajaran agama dan norma yang dijunjung masyarakat.

Tantangan tersebut juga dihadapi oleh Pengurus wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Tengah yang baru saja dilantik di Wisma Perdamaian, Minggu (5/3).

Pengurus Wilayah NU Jateng, Dr KH M Anjar Imroni MAg menegaskan, PW IPNU dan IPPNU Jateng harus senantiasa menempa diri dan berjuang untuk menjadi pelopor uswatun hasanah bagi kaum muda lainnya. Upaya itu dapat ditempuh dengan cara aktif menyuarakan pesan-pesan antinarkotika, antiseks bebas, dan antiradikalisme.

“lPNU dan IPPNU harus menjadi pelopor organisasi remaja yang uswatun hasanah bagi remaja yang lain. IPNU dan IPPNU harus menjadi pelopor untuk memerangi maraknya narkoba, seks pranikah, ngebut di jalanan, dan radikalisme,” pesannya saat menghadiri acara Pelantikan Pimpinan Wilayah IPNU dan IPPNU Provinsi Jawa Tengah Masa Khidmat 2016-2019.

Anjar menjelaskan, paham-paham Islam radikal mengintai kaum muda, termasuk para pelajar. Sejumlah sekolah, lanjutnya, bahkan sudah tersusupi pengharaman hormat kepada bendera merah putih dan pengharaman menyanyikan lagu Bagimu Negeri.

“Sekarang di sekolah-sekolah sudah banyak disusupi model-model keislaman berpaham ekstrim. Sebagian sekolah tersusupi paham tentang pengharaman hormat kepada bendera merah putih, pengharaman menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Itu karena sempitnya wawasan mereka terhadap agama Islam,” ungkapnya.

Untuk itu, Anjar meminta PW IPNU dan IPPNU Jateng gencar menyuarakan gerakan anti radikalisme dan anti berita bohong atau anti-hoax. Pasalnya, melalui hoax, paham-paham radikalisme terkadang disebarkan kepada kaum muda. Hoax yang bermuatan radikalisme itu dapat mengancam persatuan dan kesatuan NKRI. Sehingga kaum muda perlu memfilter segala informasi yang mereka terima secara cermat. Maka, pada acara tersebut, PW IPNU dan IPPNU Jateng juga melakukan penandatanganan Ikrar Pelajar Antifitnah sebagai wujud komitmen mereka memerangi hoax.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP mengapresiasi komitmen PW IPNU dan IPPNU Jateng yang turut memerangi hoax dan radikalisme.

“Saya kira penandatanganan ikrar tadi menarik. Anti-hoax, anti terhadap fitnah, anti terhadap kebencian-kebencian sing ora cetha. Sekarang jarimu juga harimaumu. Jadi hati-hati,” pujinya

Ganjar menerangkan, hoax muncul karena literasi masyarakat Indonesia terbilang rendah. Ironisnya, mayoritas masyarakat justru gemar menyuarakan opininya di media sosial, yang belum tentu kebenarannya.

“Indonesia itu urutan kelima paling cerewet (di media sosial), tetapi literasinya urutan 60 dari 61. Macane kurang, ngomonge banter. Ini tidak pas untuk ukuran pelajar. Pelajar itu harus banyak membaca, punya ilmu pengetahuan, punya tameng (terhadap hoax),” tegasnya.

Mantan anggota DPR RI itu mengakui, paham-paham radikalisme rawan disampaikan melalui kajian-kajian keagamaan di sekolah. Awalnya, diajarkan mengaji, namun di dalamnya disisipi unsur radikal. Terkait persoalan tersebut, dia telah mengumpulkan Kepala Dinas Pendidikan dan kepala sekolah.

Orang nomor satu di Jawa Tengah itu berharap, PW IPNU dan IPPNU Jateng dapat turut mengawasi kajian-kajian keagamaan yang disampaikan di sekolah. Selain itu, mereka juga diminta aktif menyuarakan pesan-pesan antinarkotika, antiseks bebas, antiradikalisme, dan anti-hoax kepada pelajar.

“Itu bisa diteliti dari tempatnya masing-masing. Saya bayangkan IPNU dan IPPNU mengecek ke musala-musala sekolah. Apa sih yang diajarkan di sana? Biarkan saja diskusinya terbuka. Nanti teman-teman bisa menangkap apakah diskusinya itu sesuai adat istiadat Indonesia,” pesan Ganjar.

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Diskominfo Jateng

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn