Berhenti Merokok Tak Hanya Butuh Tekad

Semarang – Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor penyebab penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Tak hanya candu tembakau, lingkungan yang tidak sehat seperti paparan polusi udara juga menjadi penyumbang PPOK.

Fakta tersebut diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (Arsabapi) dr Mohamad Ali Toha MARS saat menghadiri Kongres Nasional Arsabapi 2017 bertajuk “Peran Arsabapi dalam Pengembangan Profesionalisme dan Sistem Penanggulangan Penyakit Respirasi” di Novotel Hotel, Sabtu (15/7). Melihat kondisi tersebut Arsabapi berupaya menggencarkan kampanye anti merokok melalui klinik berhenti merokok. Harapannya, mereka yang semula perokok aktif dapat benar-benar berhenti merokok sehingga menurunkan potensi PPOK.

“Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya PPOK adalah rokok. Untuk menurunkan angka PPOK kita mengadakan workshop berhenti merokok melalui klinik berhenti merokok. Dengan harapan agar klinik berhenti merokok ini bisa diterapkan di setiap rumah sakit dan balai kesehatan paru sehingga memudahkan para perokok untuk berhenti merokok,” terangnya.

Ali berharap, wacana perubahan status balai kesehatan paru menjadi rumah sakit paru ataupun balai kesehatan nasional dapat terealisasi. Pasalnya, peran strategis balai kesehatan paru untuk meningkatkan penanggulangan penyakit paru tidak bisa diabaikan.

“Adanya wacana perubahan status balai kesehatan paru menjadi rumah sakit paru maupun menjadi balai kesehatan nasional mohon agar dipertimbangkan secara serius. Agar peran balai kesehatan paru yang sudah baik ini tidak terhapus, mengingat penyakit paru masih menjadi problem nomor satu bagi kesehatan masyarakat Indonesia,” harapnya.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP menjelaskan, upaya untuk berhenti merokok tidak hanya butuh kebulatan tekad namun juga proses identifikasi dari lingkungannya. Apabila ada orang terdekat yang berhasil berhenti merokok, maka hal itu akan menjadi motivasi bagi perokok aktif.

Ganjar mencontohkan kisahnya ketika dahulu dirinya dan mendiang sang ayah masih menjadi perokok aktif. Saat itu, mendiang ayah sukses berhenti merokok dan menjadi lebih sehat. Ganjar pun mengikuti jejak sang ayah untuk berhenti merokok, meski prosesnya memerlukan waktu.

“Saya kira tadi menarik ada klinik berhenti merokok. Saya dulu perokok tapi alhamdulillah tidak perlu klinik berhenti merokok untuk berhentinya. Bapak saya perokok tapi kok bapak saya bisa berhenti ya? Saya pun bisa berhenti. Hanya karena proses identifikasi, saya mengikuti saja. Pengalaman ini saya ceritakan kepada orang lain untuk berhenti merokok. Lumayan ada beberapa orang yang mengikuti saya,”bebernya.

Mantan anggota DPR RI itu juga berpesan agar balai kesehatan paru senantiasa melakukan  inovasi. Termasuk inovasi di bidang otomotif dan preventif untuk mengampanyekan kesehatan  paru.

 

Penulis : Ar, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn