Yang Negatif Saja Bisa, Mengapa Yang Positif Tidak

Jepara – “Ketika kita traveling, pasti ada keinginan meng-upload foto. Bagaimana biar foto yang kita upload tidak mengundang perhatian orang banyak dan tidak merusak lingkungan?”

Pertanyaan tersebut disampaikan Andin, mahasiswa dari Banten, saat Seminar Nasional “Media Sosial sebagai Sarana Pengembangan Ekosistem Mangrove”, di Hotel Jepara Indah, Sabtu (26/8). Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sebab, tak sedikit objek wisata baru yang justru rusak saat didatangi banyak orang, gara-gara mereka fokus berswafoto tanpa memperhatikan kondisi lingkungannya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri mengakui media sosial memiliki peran penting untuk promosi, termasuk promosi potensi wisata. Karenanya, promosi dengan meng-upload objek wisata yang indah, khususnya yang indah tapi belum dikenal, sangat diperlukan.

“Kalau memang takut rusak, yang dilakukan adalah mengimbau. Tambahkan pesan pada postingan itu, akan lebih indah lagi kalau datang tanpa merusak atau memetik,” bebernya.

Kendati begitu, Dadang mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan informasi atau berita yang belm tentu kebenarannya atau hoax. Hindari pula men-sharing informasi yang tidak bermanfaat karena hanya akan membuang pulsa dan menguntungkan satu pihak saja.

“Harus sadar, bagaimana bijak mengelola media sosial yang ada dalam genggaman. Syarat menulis di medsos, harus fokus pada masalah. Tidak melebar ke mana-mana, didukung dengan fakta dan data,” terang mantan Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Jawa Tengah ini.

Tim Kreatif Trans TV Dhea Amanda Adhari menambahkan media sosial mesti dimanfaatkan untuk meningkatkan kecintaan terhadap lingkungan. Termasuk, menjaga dan membudidayakan mangrove untuk menghindari aberasi dan menjaga ekosistem wilayah pantai. Apalagi mangrove terluas ada di Indonesia.

“Sayangnya banyak masyarakat yang belum tahu tentang mangrove. Ayo dong bangun awareness untuk meningkatkan kesadaran warga supaya lebih peduli,” katanya.

Untuk membangun kepedulian warga, netizen yang peduli terhadap perlindungan mangrove diharapkan membangun komunitas dan selalu meng-upload foto-foto mengenai kondisi mangrove saat ini. Baik yang rusak, maupun yang telah direhabilitasi. Termasuk hutan-hutan mangrove yang saat ini telah menjadi lokasi wisata. Tentunya dengan disertai hastag yang mudah diingat sehingga bisa viral atau menjadi trending topic, seperti #savemangrove, dan sebagainya. Dengan begitu masyarakat diharapkan tertarik mengetahui mengenai mangrove.

“Yang negatif saja bisa, mengapa yang positif tidak,” tegasnya.

Sementara itu, Travel Influencer dari Bandung Harival Zayuka menambahkan agar potensi mangrove lebih dikenal, mesti ada produk kampanye. Misalnya, memamerkan mangrove yang diolah menjadi sirup atau produk lain.

“Apa yang terbaru dari mangrove, di samping untuk menjaga kelestarian alam. Selalu mem-posting view of mangrove, sehingga orang ngeh dengan apa yang kita posting dan tunjukkan. Berikan informasi positif pada caption-nya,” tandas Harival. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn