Jateng Siapkan Tim lncident Response Keamanan Informasi

Semarang – Masih ingat dengan ancaman Wanna Cry di dunia internet belum lama ini, peretasan sejumlah website, atau bahkan pembobolan bank melalui SMS? Mengapa itu bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya?

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri mengungkapkan merebaknya penggunaan internet dengan teknologi yang semakin canggih membuat tindakan cybercrime menjamur, termasuk di Indonesia. Baik berupa hacker, cracker, virus, dan sebagainya.

Indonesia Cyber Security Report 2017 oleh ID-SIRTII mencatat sedikitnya 135.672.948 serangan terjadi sepanjang 2016. Jumlah itu meningkat 50 persen dibandingkan 2015 yang terdapat 89.691.783 serangan. Beberapa kasus di antaranya, serangan Wanna Cry, peretasan website pemerintah, pembobolan bank melalui SMS, dan lainnya.

Dadang menyampaikan serangan ke dalam sistem jaringan komputer terjadi dari dalam atau intranet. Artinya, yang menyebabkan orang luar bisa masuk ke sistem adalah akibat kelalaian dari dalam sendiri, baik karena tidak melakukan pembaruan sistem (patching) atau mengganti password secara berkala.

“Kelalaian ini menjadi besar dampaknya saat suatu organisasi atau perusahaan yang memiliki jaringan komputer yang tersambung ke internet. Karena organisasi atau perusahaan tersebut seolah-olah berada di satu lapangan terbuja yang dapat diserang setiap saat dari berbagai arah,” bebernya, pada acara Focus Group Discusion (FGD) Pengamanan Siber terhadap Website dan Aplikasi Daring yang Dikelola Pemerintah, di Hotel Horison, Selasa (13/6).

Melihat kasus tersebut, imbuh Dadang, keamanan sistem jaringan mutlak dibutuhkan. Dalam pengamanan jaringan intranet dan perangkat internet, dibutuhkan pengetahuan tentang teknologi jaringan yang cukup untuk menganalisis kejadian-kejadian yang berkaitan dengan keamanan jaringan itu.

“Untuk mengatasi banyaknya serangan, Diskominfo Provinsi Jateng telah mempersiapkan pembentukan Tim lncident Response Keamanan Informasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Tim tersebut melibatkan unsur dari pemerintah, perguruan tinggi, relawan, dan pakar IT di Provinsi Jawa Tengah. Sehingga diharapkan tak lagi ada serangan yang masuk ke sistem,” tandas mantan Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Jawa Tengah. (Ul, Diskominfo Jateng)

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn