BMKG SOSIALISASIKAN AGROKLIMATOLOGI PADA PETANI DEMAK

 

DEMAK-Kabupaten Demak yang mempunyai luas wilayah 89.743 hektar, menyimpan berjuta potensi, baik potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Ada empat sektor unggulan yang menjadi penopang kemajuan daerah dan diprioritaskan pengembangannya, yakni sektor pertanian, UMKM, pariwisata, kelautan dan perikanan.

Demak adalah lumbung pangan nasional. Padi merupakan komoditas yang dituntut oleh pemerintah pusat untuk swasembada pada program upaya khusus padi, jagung, dan kedelai (Upsus Pajale). Kementerian Pertanian Republik Indonesia bahkan menargetkan luas tambah tanam padi Kabupaten Demak seluas 122.800 hektar. Hal ini dikarenakan Demak dipandang sangat potensial terhadap peningkatan produksi padi dengan luas potensi bahan baku lahan seluas 51.558 hektar.

Melihat besarnya potensi pertanian di Kabupaten Demak, maka BMKG menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Agroklimatologi (Sekolah Lapang Iklim) bertempat di Pendopo, Selasa (18/4). Sosialisasi bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terkait informasi cuaca dan iklim kepada para petani di Kabupaten Demak. Hal ini juga untuk menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional Dalam Menghadapi Iklim Ekstrim.

Hadir membuka acara tersebut Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesra, Windu Sunardi, SH, MH mewakili Bupati Demak yang berhalangan hadir. “Budidaya tanaman pertanian sangatlah tergantung pada iklim dan cuaca. Unsur cuaca yang memiliki pengaruh adalah intensitas cahaya matahari, suhu, curah hujan, dan kelembaban. Semuanya terikat dan saling mempengaruhi. Dari data iklim akan dapat diketahui kesesuaian iklim yang optimum bagi tanaman serta batas-batas ekstrimnya. Dapat pula dibahas tentang kebutuhan air irigasi, penyebaran hama penyakit tanaman, serta hubungan iklim dengan berbagai kegiatan pertanian lainnya,” kata Asisten II.

Kepala Statistik Klimatologi Semarang, Ir. Tuban Wiyoso, M.Si mengatakan bahwa tujuan dari sosialisasi adalah untuk meningkatkan kemampuan petani dalam mengantisipasi iklim ekstrim untuk mendukung ketahanan pangan.

Iklim merupakan faktor pembatas dalam pertanian. Secara mikro iklim bisa dimodifikasi, namun secara makro sangatlah sulit. Menghadapi hal yang demikian tentunya para petani dapat berpikir bagaimana faktor iklim bisa membantu agar tidak gagal panen.

“Mengingat urgensi dari kegiatan ini, saya harapkan agar peserta sosialisasi dapat mencermati dengan sungguh-sungguh materi yang disampaikan oleh para narasumber. Sehingga apa yang menjadi tujuan dari kegiatan ini akan lebih mudah terwujud. Saya minta anda sekalian dapat menularkan ilmu yang diperoleh hari ini kepada petani lainnya,” tegas Asisten II.

Turut hadir dalam acara tersebut Anggota Komisi V DPR RI Fathan Subkhi dan Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Joko Siswanto, S.Sos. *(Humas Demak)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn