Kota Surakarta

Siapa yang tak kenal dengan Kota Surakarta atau Solo sekarang ini. Selain memiliki sungai yang legendaris, yakni Bengawan Solo, popularitas Kota Surakarta mencapai puncaknya ketika kota seluas 4.404,06 hektare dan dihuni lebih dari 500.000 jiwa ini dipimpin oleh Wali Kota Joko Widodo. Kini Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta.
 
Namun, terlepas dari gaya kepemimpinan Jokowi yang sukses menyulap Surakarta menjadi kota yang bersih, hijau, nyaman, dan berorientasi pada pelayanan publik, kota ini sesungguhnya memang memiliki warisan sejarah sosial, politik, kebudayaan, dan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain di Jawa Tengah. Di kota ini terdapat dua kerajaan, yakni Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan. 
 
Menyaksikan Kota Surakarta sama halnya dengan menyaksikan dua wajah budaya yang bisa berjalan seiring. Warisan budaya beserta hal-hal yang bersifat tradisional masih dijalankan sebagian besar warga. Akan tetapi, di sisi sama, wajah kota beserta penduduknya juga mengalami proses modernisasi secara cepat. Keunikan dua sisi budaya inilah yang ingin terus dipertahankan pemimpin Kota Surakarta hingga hari ini.
 
Bangunan-bangunan modern, seperti hotel berbintang, perkantoran modern, hingga pusat perbelanjaan (mal) memang menyesaki halaman depan Kota Surakarta. Kafe dan restoran pada malam ramai dikunjungi pelanggan, namun jauh lebih ramai adalah warung HIK alias hidangan istimewa kampung yang semenjak petang hingga dini hari disesaki kaum muda, pelajar, dan mahasiswa.
 
Mengenai bagaimana lezatnya makanan di Kota Surakarta, ada ungkapan yang menyatakan bahwa di mana pun Anda makan, baik di restoran, hotel, warung, atau di kedai HIK, ada kesamaan komentar: sama enaknya. Keramaian restoran dan warung makan kelas pedagang kaki lima tampaknya merupakan jawaban betapa rasa kuliner di kota ini memang "maknyus".
 
Kekayaan kuliner dengan kelezatan rasa itulah yang menjadikan hampir semua orang sepakat bahwa ketika berada di Solo harus bisa merasakan semua masakan khas di Kota Bengawan ini, mulai dari tengkleng, sup matahari, atau selat yang kaya sayuran.
 
Kelezatan makanan yang disajikan oleh banyak rumah makan itu seolah menjadi puncak pelesiran setelah sepanjang hari menelusuri banyak warisan sejarah dan budaya di kota ini, seperti keratin, museum, Taman Jurug, hingga sentra batik. Keramahan yang nyaris Anda peroleh ketika bersua dengan warga setempat menjadi kenangan indah selama Anda berada di Solo.
 
Kalau menginginkan sajian dan tontotan bermutu, Pemerintah Kota Surakarta bersama pemangku kepentingan, termasuk seniman dan pekerja kebudayaan, Anda dengan mudah bisa mencari "calendar event" yang terpampang di laman resmi pemerintah kota setempat. Kota ini sering menggelar beragam festival, misalnya festival batik atau jenang. Semuanya asyik disaksikan bersama teman, kerabat, dan keluarga